Slamet Wirasonjaya dan PUSDAI

Every great architect is – necessarily – a great poet. He must be a great original interpreter of his time, his day, his age. (Frank Lloyd Wright)

Pada masa modernisme pasca kemerdekaan di Indonesia, Slamet Wirasonjaya merupakan arsitek dan dosen di ITB. Selain terlibat di ITB, beliau juga terlibat dalam perencanaan Monumen Nasional di Jakarta. Karya-karyanya cenderung berbentuk dinamis, ekspresionis, dan sebagian besar merupakan bangunan publik seperti Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Pusat Da’wah Islam (PUSDAI), Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Monumen Yogya Kembali, dan lain-lain. Beliau juga pernah menerbitkan sebuah buku yang berjudul “SLW”.

Selain terkenal menjadi arsitek, beliau juga menggeluti arsitektur lansekap. Setelah kuliah di ITB mengambil jurusan Arsitektur, beliau melanjutkan kuliah Arsitektur Lansekap di Harvard. Beliau merupakan orang Indonesia pertama yang mendapat gelar Magister Arsitektur Lansekap. Beberapa bulan setelah lulus, beliau membuat karya pertamanya sebagai arsitek lansekap di Indonesia yaitu proyek Gedung Conefo atau Gedung MPR/DPR. Namanya cukup terkenal di kalangan arsitektur lansekap di Indonesia.

Arsitektur ruang publik menjadi fokus utama yang ingin diwujudkan oleh Slamet. Menurut beliau, ruang publik adalah sebuah tempat untuk orang berkumpul dan bersosialisasi. Prinsip kebersamaan menjadi salah satu penyebab suksesnya bangunan-bangunan rancangan seorang Slamet Wirasonjaya. Oleh karena itu, dalam merancang bangunan atau ruang publik, beliau pasti melibatkan orang-orang sekitar karena rancangan tersebut juga akan digunakan oleh orang-orang tersebut.

Sejarah PUSDAI

20150401_155856

Ide awal PUSDAI dibangun yaitu dalam rangka menyambut abad ke 15 tahun Hijriah, yaitu tahun 1400 Hijriah pada tahun 1977. Pada masa tersebut, kebangkitan islam cukup terasa sehingga perayaan menuju abad ke 15 ini cukup meriah dengan merayakan kegiatan-kegiatan yang islami dan seperti halnya merayakan pesta menuju abad milenium. Kalangan ulama sendiri melakukan diskusi untuk membuat sesuatu yang berkaitan dengan Islamic Center. Usulan ide ini disampaikan kepada gubernur pada saat itu. Kemudian, gubernur pun menyutujuinya. Hal ini juga bernilai nasionalisme karena sebagai simbolisasi dalam mengingat para pejuang kemerdekaan tahun 1945.

Pada tahun 1982, Surat Keputusan mengenai pembebasan Islamic Center ini baru disetujui dan ditetapkan bersamaan dengan Surat Keputusan untuk Monumen Perjuangan Rakyat yang sesuai dengan keinginan pemerintah. Setelah 10 tahun kemudian, dan telah melalui tiga masa gubernur, pada tahun 1992 perencanaan PUSDAI ini mulai dibangun. Perancang dari PUSDAI ini yaitu Slamet Wirasonjaya, yang saat itu merupakan dosen Arsitektur ITB. Pembangunan berlangsung selama 5 tahun. Peresmian selesainya pembangunan yaitu tanggal 2 Desember 1997.

Konsep awal rencana bangunan PUSDAI yaitu mengambil dari pemukiman Sunda. Area yang terbuka yang terletak di tengah tapak dianalogikan sebagai kolam. Selain itu, bangunan ditinggikan seperti konsep rumah panggung. Bentuk atap yaitu tropis khas Sunda sesuai dengan keadaan lokasi. Interiornya pun menggunakan ukiran dan hiasan khas alam Sunda pada bagian dinding dan beberapa furnitur seperti hanjuang, patra komala, dan lain-lain. Ciri khas komponen lain yang diterapkan yaitu banyaknya unsur lengkung seperti konsep Islam Timur Tengah yang sekaligus diperkirakan sebagai bagian dari struktur bangunan berupa balok. Struktur utama bangunan menggunakan material beton, sedangkan struktur untuk rangka atap menggunakan baja.

Catatan Referensi:

Tulisan ini dibuat dalam rangka melengkapi makalah mata kuliah Seminar Arsitektur. Selain itu, masih banyak kekurangan dan masih dalam tahap perbaikan. Sumber tulisan diambil dari berbagai macam tulisan lain mengenai Slamet Wirasonjaya, buku mengenai Arsitektur di Indonesia. Selain itu, sejarah PUSDAI didapat dari hasil wawancara dengan Pak Taufiq Rahman yang saat ini menjadi Kepala IT di PUSDAI.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s