Karya Arsitektur di Kampus ITB – Gedung SBM

ITB yang terkenal merupakan salah satu bangunan kampus tertua di Indonesia terus mengalami perkembangan baik segi fisik maupun nonfisik. Perkembangan dalam segi fisik dapat dilihat dari proses perkembangan pembangunan akan kebutuhan fasilitas kegiatan di dalam kampus yang selaras dengan kemajuan pada zamannya. Dengan luas lahan yang terbatas, laju pembangunan di dalam kampus ITB dapat dibagi dalam beberapa periode tahun yang sesuai dengan ciri khasnya.

Pembangunan fasilitas tersebut tidak lepas dari aspek arsitektur. Karya arsitektur di dalam kampus ITB ini akan menjadi fokus utama tulisan. Periode waktu pembangunan yang akan dibahas yaitu dalam kurun tahun 1950-1990 atau tepatnya periode pasca kemerdekaan Indonesia. Pembangunan terdiri dari 5 tahap periode, yaitu 1950-an, 1968-1973, 1973-1978, 1978-1983, dan 1983-1990. Dalam hal ini, penulis akan membahas beberapa gedung yang dibangun pada masing-masing periode diantaranya yaitu Gedung SBM (1950-an), Gedung PLN (1973-1978), Labtek IV (1978-1983) dan Perpustakaan Pusat (1983-1990).

Gedung SBM (1950-an)

sbm1

Gedung SBM tampak sisi timur

  • Sejarah

Pada era ini, anggaran pembangunan fisik kampus diperoleh dari sejumlah dana dan material yang merupakan bagian rampasan perang. Fasilitas banyak dibangun untuk keperluan departemen beberapa program studi. Selain itu dibangun pula beberapa gedung lainnya yaitu Balai Pertemuan Ilmiah di Jalan Surapati dan Gedung Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman yang terletak di sisi utara kampus.

Gedung Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman dihibahkan dari kepemilikan PU ke ITB. Gedung ini dirancang oleh arsitek berkebangsaan Austria yaitu Natmeisnig dan Kopeignig yang saat itu bergabung dengan Biro Arsitek Sangkuriang (Rahaju BUK, 1996). Pada saat yang sama, arsitek tersebut juga merancang Gedung BPI. Pada tahun 2004, gedung yang beberapa kali mengalami perubahan fungsi tersebut direnovasi dan direvitalisasi untuk dijadikan tempat perkuliahan. Hal tersebut melibatkan desainer interior yang berperan besar dalam mengubah interior gedung tua menjadi gedung baru yang disesuaikan dengan fungsi belajar. Saat ini, gedung tersebut kita ketahui sebagai gedung Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM).

  • Analisis Desain

Pertama kali yang dapat dilihat oleh mata kita, visual dari bangunan ini yaitu pola kotak-kotak yang terdapat pada bagian sisi utara, timur, dan selatan. Kotak-kotak persegi menjadi ciri khas dan keunikan dari bangunan yang paling modern pada saat itu. Kotak-kotak tersebut merupakan komponen façade (tampak) bangunan yang menggunakan sistem sun shading. Sistem ini mengadaptasi lingkungan tropis dengan mempertimbangkan aspek pencahayaan dari sinar matahari. Komponen tersebut berfungsi untuk mengurangi masuknya intensitas sinar matahari melalui jendela dan pintu yang didominasi oleh material kaca pada bidang bangunan.

sbm2

Pola kotak-kotak pada tampak sisi selatan

Teknologi baru yang diterapkan pada Gedung SBM ini yaitu produksi massal prefabrication atau produksi yang dibuat di pabrik sebelumnya. Material komponen pola persegi menggunakan beton yang dicetak massal di pabrik karena kebutuhan yang jumlahnya berkisar lebih dari seratus buah. Penyelesaian pada bidang dinding dibuat dengan memanipulasi teknik pertukangan dalam penyelesaiannya sehingga memunculkan kesan rustic. Material kaca yang diletakkan sebidang dan lebar mencirikan adanya transparasi ruang luar dan ruang dalam.

sbm3

Komponen pola persegi dengan kedalaman kurang lebih 90 cm di tampak sisi barat Gedung SBM

  • Faktor keterkaitan desain

Gedung SBM pada awalnya dibangun pada saat yang sama dengan gedung BPI pada tahun 1950-an. Gedung BPI menerapkan gaya arsitektur cubism (internasionalism). Di Indonesia, gaya arsitektur ini dikenal dengan gaya Jengki yang berkembang pada tahun 1950-1960. Pada masa itu, beberapa arsitek Belanda dipulangkan ke negaranya dan terdapat juga beberapa arsitek Belanda dan kebangsaan lainnya yang masih menetap di Indonesia.

Karakter arsitektur modern yang dibawa yaitu berupa penerapan ide bangunan kotak dan geometris murni yang saat itu diterapkan secara internasional. Maraknya produksi massal juga mempengaruhi gubahan bentuk dan bahan bangunan yang diterapkan. Pada masa ini, produk arsitektur menjadi terlalu sederhana karena penekanan pada ruang, sehingga tidak ada bedanya karya arsitek dan bukan arsitek. Namun, di sisi lain arsitek juga ditantang dan berkesempatan untuk memanfaatkan masa tersebut dalam mengeksplorasi bentuk dengan menyesuaikan ilmu dan teknologi yang ada.

Sistem sun shading dengan pola komponen persegi terinspirasi dari salah satu karya arsitek terkenal pada era ini, Le Corbusier, bangunan unit perumahan yaitu Unité d’Habitation atau disebut juga Cité radieuse (Radiant City) di Mersailles dan Berlin. Gaya modernis pada bangunan Le Corbusier dibangun antara tahun 1947 dan 1952. Sistem ini juga merupakan salah satu prinsip yang sering digunakan oleh Le Corbusier.

118966

Salah satu tampak bangunan Unite de Habitation karya Le Corbusier

Pada era arsitektur modern, akibat pengaruh revolusi industri, karakter material yang kuat yang dapat dibuat secara massal yaitu beton, baja, dan kaca. Penggunaan material untuk bangunan yang dominan pada saat itu menggunakan beton. Material kaca juga dimanfaatkan untuk mengekspresikan ruang yang lebih terbuka. Kaca yang lebar diletakkan pada bidang-bidang sehingga bidang polos kaca itulah yang sangat dimunculkan dalam bangunan modern.

bersambung, lanjut ke Karya Arsitektur di Kampus ITB (2)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s