architec-ture#1 Gambar: Teknik Komunikasi dan Presentasi Arsitektur

Materi ini menjadi yang paling sangat dasar yang harus diketahui oleh mahasiswa arsitektur. Pokoknya kalau ga tau materi ini, bukan anak arsi banget deh. Tau kan kalau arsitek kerjaanya ngegambar? Ya berarti sebagai calon arsitek (aamiin) kita harus tau apa itu gambarnya dong. Nah, gambar inilah yang menjadi teknik bagaimana seorang arsitek berkomunikasi dan mempresentasikan ide atau gagasan mengenai bangunan yang dirancangnya kepada klien dan disiplin lain yang akan ikut bekerja bersama sang arsitek.

Baca lebih lanjut

4 Tahun di ITB

Terlepas dari post-post sebelumnya, kali ini saya akan sangat ga formal dalam berbahasa. karena ga terasa.. ya dalam hati terbesit ga terasa, aku udah 4 tahun mengambil jenjang perguruan tinggi, kuliah, main, mencari jati diri, di arsitektur pula, semua ada di tahap ini. Yang baca post ini mungkin ga akan banyak juga, karena saya masih terbilang ga aktif sebagai blogger. Mungkin post ini bisa jadi awal cita-cita dari akhir mimpi yang akan terwujud. (ga ngerti kan? sama saya juga)

Baca lebih lanjut

Karya Arsitektur di Kampus ITB (4) – Perpustakaan Pusat

Perpustakaan Pusat (1983-1990)

20150524_141820

Perpustakaan Pusat dari sisi timur 

  • Sejarah

Pada tahun 1975, ITB berencana untuk membangun gedung perpustakaan yang dirancang sesuai dengan fungsi perpustakaan perguruan tinggi. Gedung perpustakaan mulai dirancang oleh seorang arsitek lulusan ITB, Slamet Wirasonjaya. Gedung seluas 9.000 m2 di bagian utara kampus ini selesai dibangun dan mulai ditempati sejak pertengahan tahun 1987. Sebelumnya perpustakaan ITB terletak di Aula Barat.

Pembangunan ini merupakan tahap pertama dari rencana bangunan perpustakaan yang jumlah totalnya mencapai luas 16.000 meter persegi. Tahap kedua pembangunan gedung perpustakaan baru akan dilaksanakan setelah gedung tahap pertama terisi penuh. Hal ini diperkirakan baru akan tercapai setelah gedung tahap pertama dioperasikan selama 25 tahun. Namun, setelah 28 tahun beroperasi, hingga saat ini belum diketahui lagi bagaimana lanjutan rencana pembangunan tahap kedua tersebut. Karena lahan yang diperkirakan akan menjadi rencana berikutnya yaitu yang berada di sisi timur perpustakaan telah dikembangkan menjadi bangunan Center for Advanced Studies (CAS) dan Center for Research and Community Services (CRCS) yang fungsinya berbasis riset dan pelayanan masyarakat.

  • Analisis desain

Gubahan bentuk bangunan ini merupakan kompromi antara bentuk dan konteks lokasi; hasil sintesis antara ekspresi bentuk yang menyimbolkan tumpukan buku dan letaknya yang berada di area tempat ‘persinggungan’ dengan sumbu imajiner kampus ITB. Plastisitas material beton memungkinkan terwujudnya ruang dan bentuk seperti yang diharapkan.” – SLW, Dhian Damajani (2006:37).

Bentuk gedung perpustakaan sangat unik dan menunjukkan ciri khas arsiteknya, Slamet Wirasonjaya berupa bentuk lengkung dan inovasi bangunan. Dengan pendekatan analogi, menurut Beliau, bentuk bangunan ini terlihat seperti tumpukan buku pada rak. Bentuk yang berundak-undak seperti tumpukan buku ini dapat terlihat dari sisi utara dan selatan bangunan. Selain itu, ciri khas bentuk-bentuk lengkung diterapkan secara berulang pada bagian bentukan buku dan terdapat pada bagian pintu utama di sisi barat bangunan. Bentuk lengkung pada sisi pintu utama menggunakan bahan fiberglass.

20150524_142100

Area masuk di bagian depan Gedung Perpustakaan terlihat bangunan yang berundak dan lengkungan-lengkungan bagian gerbang

Penggunaan material beton menjadi ciri khas gaya arsitektur yang sedang tren pada saat pembangunan Gedung Perpustakaan. Selain itu, material beton ini juga merupakan material yang dapat menyesuaikan dengan bentuk dan keinginan perancang yang melengkung serta bersifat plastis. Material beton ini murni digunakan pada bagian eksterior bangunan berupa fasade dan dinding luar serta struktur utama berupa beton bertulang. Kejujuran material dan struktur ini merupakan salah satu ciri khas dari perancang.

Penerapan sistem ketropisan pada bangunan tentunya tidak dilupakan oleh perancang. Dengan bentuk pendekatan analogi, bangunan juga harus menyesuaikan dengan iklim tropis dan pencahayaan. Bentuk bangunan memanjang secara utara dan selatan. Untuk bagian sisi yang terkena langsung sinar matahari di barat dan timur, bangunan diselesaikan dengan minimnya bukaan seperti pintu dan jendela. Bukaan ini justru diperbanyak pada bagian utara dan selatan yang merupakan sisi terpendek pada bangunan.

Selain inovasi bentuk bangunan, Perpustakaan ITB ini juga berinovasi di bidang teknologi dalam sistem penghawaan bangunan. Bangunan perpustakaan ini merupakan gedung pertama yang menggunakan AC sentral di ITB.

  • Faktor keterkaitan desain

Pada awal perencanaan, perancang ingin menggunakan material metal pada fasade. Namun, diperkirakan terdapat faktor internal yang mempengaruhi proses pengembangan rancangan. Akibatnya, permukaan gedung perpustakaan hanya berupa material beton yang berlapis cat berwarna putih. Setelah bangunan mulai beroperasi, tampak luar bangunan semakin hari semakin terlihat kusam dan berlumut. Hal ini tentunya diakibatkan karena bangunan bermaterial beton yang langsung terpapar sinar matahari dan hujan secara langsung.

tumblr_llv81jXjF61qze1fv

Seluruh bagian luar gedung Perpustakaan Pusat “telanjang” dengan material beton

Pada proses perawatan dan pemeliharaan, rencana fasade bangunan berubah ekspresi lagi yang diperkirakan adanya faktor tren gaya bangunan. Penggunaan keramik pada bagian eksterior bangunan sedang menjadi tren pada bangunan-bangunan lain di sekitarnya seperti pertokoan dan bangunan publik. Karena tidak ingin ketinggalan zaman, perubahan rencana fasade pun terjadi dengan dilapisi keramik berwarna biru pada seluruh bagian eksterior bangunan. Perubahan ini mengundang persepsi negatif terhadap warga kampus ITB saat itu sehingga gedung ini biasa disebut sebagai “WC Raksasa”.

1261473666

Gedung Perpustakaan Pusat diselimuti material keramik berwarna biru yang sedang tren pada masanya

Fenomena persepsi tersebut tentunya dapat mempengaruhi kinerja sistem perpustakaan di dalamnya. Tidak banyak mahasiswa yang mengunjungi dan betah berdiam pada saat itu. Akibatnya perlu diadakan perubahan lagi terhadap rencana fasade bangunan perpustakaan. Akhirnya, pada tahun 2009 keramik-keramik yang menempel tersebut mulai dirombak dan diganti menjadi berbahan panel komposit yang berwarna silver metal. Hal ini mungkin dipengaruhi karena ingin menyesuaikan dengan rencana awal si perancang.

IMG_3511

Panel metal yang hingga saat ini masih menjadi bagian modern dari bangunan Perpustakaan Pusat

  • Kajian konteks

Dengan berbagai kondisi yang turut mempengaruhi kinerja dan kualitas perpustakaan, begitu banyak tantangan yang harus dihadapi oleh UPT Perpustakaan ITB. Salah satu masalah utama adalah membangun koleksi yang selalu selaras dengan perkembangan dunia ilmu pengetahuan mutakhir yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi. Hal ini begitu sulit diwujudkan mengingat diperlukan dukungan dana yang memadai. Namun, upaya lain tetap dapat ditempuh dan ditingkatkan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas perpustakaan, termasuk membangun fasilitas untuk koleksinya serta dengan membina dan mengembangkan jejaring (kerjasama) dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun di luar negeri. Diharapkan dengan jejaring yang kuat, UPT Perpustakaan ITB dapat mendukung visi dan misi Institut Teknologi Bandung sebagai institusi pendidikan, yang bukan hanya bermanfaat bagi sivitas akademika ITB semata tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat luas.

Demikian beberapa serial karya arsitektur bangunan-bangunan di Kampus ITB. Masih banyak bangunan di Kampus ITB lainnya yang menarik yang dapat dianalisis dari segi desain atau perancangannya. Semoga dapat menambah pengetahuan pembaca mengenai bangunan di Kampus ITB yang tidak hanya terkenal berupa sebutan tetapi dari sisi arsitekturnya juga yang menarik.

Sumber Referensi

  1. Institut Teknologi Bandung, Undergraduate Student Handbook. Bandung: Penerbit ITB.
  2. 2014. Institut Teknologi Bandung, Knowledge Center, UPT Perpustakaan ITB. Bandung: Penerbit ITB.

Damajani, Dhian. 2006. SLW. Bandung: Program Studi Arsitektur ITB.

Rahaju BUK., S. 1996. Pembangunan Kampus ITB 1989-1996: Mewujudkan Impian dan Cita-Cita. Bandung: Penerbit ITB.

http://arsitekturbicara.wordpress.com (24/05/2015)

http://arun1st.wordpress.com (24/05/2015)

http://ditbang.itb.ac.id (24/05/2015)

http://id.geoview.info (24/05/2015)

http://if99.net (25/05/2015)

http://kurniawangunadi.tumblr.com (24/05/2015)

http://lib.itb.ac.id/tentang-perpustakaan (24/05/2015)

http://unalux.wordpress.com (24/05/2015)