4 Tahun di ITB

Terlepas dari post-post sebelumnya, kali ini saya akan sangat ga formal dalam berbahasa. karena ga terasa.. ya dalam hati terbesit ga terasa, aku udah 4 tahun mengambil jenjang perguruan tinggi, kuliah, main, mencari jati diri, di arsitektur pula, semua ada di tahap ini. Yang baca post ini mungkin ga akan banyak juga, karena saya masih terbilang ga aktif sebagai blogger. Mungkin post ini bisa jadi awal cita-cita dari akhir mimpi yang akan terwujud. (ga ngerti kan? sama saya juga)

Di post ini, saya ga mau cerita panjang lebar. Saya ingin mengekspresikan tahap-tahap yang tak disangka ini ke dalam dua paragraf tiap tahap aja. Sekedar informasi aja, kurang lebih 3 minggu dari post ini dibuat, saya bertekad untuk wisuda dan lulus dari ITB, jurusan Arsitektur. Semoga semua urusan saya ini bisa dilancarkan yaa, aamiin.

-1
Ini masa kelas 3 SMA saya. Tahun 2011, di awal tahun ini saya dan teman-teman sudah mulai mengejar untuk masuk ke perguruan tinggi. Mulai dari PMDK, tes pra USM, dan lain-lain. Kala itu, saya mencoba untuk ikut tes ke beberapa perguruan tinggi di Bandung. Apalah daya, yaa ga ada yang keterima. Di tahun ini juga, baru muncul adanya SNMPTN Undangan, masuk perguruan tinggi tapi cuma dilihat dari nilai rapotnya aja.

Sejak dari kelas 1 SMA, saya ga punya tekad apa-apa dan ga tau informasi apa-apa tentang PTN. Sedangkan di saat yang bersamaan, teman-teman saya sudah punya pandangan untuk masuk jurusan yang diinginkan. Seiring berjalannya naik kelas, kebanyakan teman-temen sekelas bertekad untuk masuk PTN seperti UI, ITB, UNPAD, UGM, ITS, dll serta masuk jurusan seperti FK (kedokteran), MIPA, Psikologi, HI, Arsitektur, dll juga. Sedangkan saya bahkan sampai kelas 3 pun masih bingung mau masuk jurusan apa dan PTN mana.

0
Ini masa kelas 3 SMA bukan, masa lulus sekolah juga bukan, masa masuk kuliah pun bukan. Lebih tepatnya masa galau. Waktu mau daftar online “undangan” akhirnya saya tancap gas untuk milih ITB fakultas FTI dan SAPPK, sama pilih FKG UNPAD. Sebenarnya alasan pilihan-pilihan ini karena waktu itu pernah ada presentasi tentang semua hal per-ITB-an yang diselenggarakan di Aula sekolah. Kala itu, pengetahuan yang ada di otak cuma ITB, ya jadinya semacam terhipnotis dan mantap untuk pilih ITB. Kenapa FTI, karena sebagai pembanding nilai apakah nilai saya sampai di titik FTI atau ngga. Kenapa SAPPK, karena sebenernya ini minat pertama saya. Kenapa FKG UNPAD, karena penasaran dengan per-FK-an.

Walhasil, minat pertama sayalah yang terwujud. Seneng banget. Setelah berbagai administrasi dilalui untuk masuk ITB, ada program yang namanya matrikulasi. Masa ini semacam masa udah keterima di ITB, tapi kita harus ngikutin segelintir pelajaran kelas 4-nya SMA, atau yang saya rasa sih semacam seminar gratis dari dosen-dosen ITB karena ilmu dan pengetahuannya umum dan sesuai keahlian mereka, dan psikotes lagi. Kurang lebih 4 minggu. Habis itu baru ada sidang terbuka, semacam acara formal dalam penerimaan mahasiswa baru yang kala itu periode ajaran tahun 2011-2012, baik itu program sarjana yang jumlahnya ribuan, magister yang jumlahnya puluhan atau ratusan, maupun doktor yang ga terlihat banyak amat juga.

1
Ini disebut juga masa TPB (Tahap Paling Bahagia) katanya (yang harusnya Tahap Persiapan Bersama). Nah ini nih kelas 4-nya SMA. Di awal tahun di ITB, semua mahasiswa tahun pertama masih berstatus fakultas, bukan mahasiswa jurusan, dan wajib menyelesaikan mata kuliah seperti Matematika (yang dulu Kalkulus), Kimia, Fisika, B. Inggris, Teknologi Informasi, Olahraga, B. Indonesia, kuliah umum (waktu itu ada Sistem Alam Semesta dan Konsep Pengembangan dan Ilmu Pengetahuan), dan mata kuliah tambahan dari fakultas. Mata kuliah dari SAPPK ada 2, dari AR (Arsitektur) sama PL (Planologi) (tau kan yah kedua jurusan ini), ada Dasar Perencanaan dan Perancangan sama Teknik Komunikasi dan Presentasi. Keduanya sama-sama menggambarkan tiap jurusan, supaya kita bisa mantap milih jurusan nanti pas tahun kedua.

Di tahun ini juga, pertama kalinya saya menginjakkan kaki di ITB. Selama itu 16 tahun hidup di Bandung belum pernah jalan-jalan ke ITB dan ga tau sama sekali apa itu ITB. Beberapa kesempatan untuk mengenal ITB ini mulai dari OSKM (semacam masa orientasi kampus lah), ikut UKM (unit kegiatan mahasiswa), ikut kepanitiaan (waktu itu ikut magang di Kabinet Kemahasiswaan ITB), ikut jadi panitia di wisuda (cuma jadi satuan petugas semacam keamanan), ikut ospek fakultas, pokoknya intinya kenapa ikut dan harus ikut seperti itu supaya dapat teman kenalan dari fakultas lain, angkatan atas, dapat informasi dan segala halnya tentang jurusan yang diinginkan, tentang ITB, bisa keliling ITB sampe mampus (maksudnya sampe kenal banget daerah-daerah), dan kenal HMJ (himpunan jurusan). Intinya ayo bentuk relasi sekampus!

2
Masuk arsitektur menjadi kebanggan buat saya sendiri. Jurusan yang dikenal suka ansos, begadang, cantik-cantik, kaya raya, dan kece-kece, dan kadang ada yang suka merasa tidak cocok juga, nyatanya saya yang ga gitu-gitu amat bisa masuk. Hal ini karena tiap kuesioner di ol.akademik (website nya ITB yang wajib update tiap awal dan akhir semester) selama setahun pertama kemarin saya isi Arsitektur semua hahahahaha. Karena sejak awal masuk ITB, ga ada sama sekali pikiran dan penasaran untuk masuk Planologi. Jujur saya suka gambar, tapi ga bagus-bagus amat, tapi saya orangnya cenderung teoritis juga. Dan hal yang “menyenangkan” dari tahun ini adalah ospek jurusan yuhuuu. Harus banget ikut dan hukumnya wajib buat yang mau dapat pengalaman dan ilmu lebih tentang jurusan bareng kakak-kakak angkatan atasnya, hahahaha.

Tahun ini jadi kesempatan untuk mengenal lebih jauh tentang Arsitektur dan tempatnya. Banyak studio, banyak mata kuliah, dan masih bisa ikut mata kuliah di luar jurusan, masih bisa bebas kemana-mana, masih bebas untuk ikut aktif di berbagai kepanitiaan, perunitan, di luar kampus juga, dan banyak lah. Di tahun ini, saya sih berusaha untuk ngimbangin, kuliah, tugas kuliah, studio, jam bimbingan studio, jadi panitia syukuran wisuda di jurusan, ngobrol sama kakak-kakak angkatan atas, jadi panitia di luar jurusan, ikut acara Career Center nya ITB, ikut kegiatan di luar kampus, ngajar di bimbingan SMA, Intinya sampai akhir tahun ajaran di 2012, saya masih bisa bebas lah.

3
Untuk urusan nilai, baru mau saya bahas. Awal tahun, saya merasa termasuk bodoh di ITB, karena cuma dapat 3.00 (tau lah ya maksudnya) karena rata-rata setengah dari angkatan lebih dari itu. Tahun kedua, lumayan naik jadi 3.20 karena jujur masih merasa nyaman dan bebas dan terbantu dan belum merasa sangat menjadi beban kuliah di Arsitektur. Nah, tahun ketiga inilah, teman-teman saya mulai sibuk pada jadi ketua, wakil ketua, kepala bidang, sekertaris jenderal, ketua divisi, baik itu di himpunan maupun unit. Tahun ini semacam tahun suramnya saya, karena segala hal tentang kuliah menjadi beban dan berat. Belum lagi dapat pembimbingnya yang semester satu galak tapi terbilang hebat, yang semester dua semaunya dia dan ga kira-kira ngasih kerjaannya. Dan di tahun ini, saya nyaris dapat di bawah 3.oo karena ya itu tadi.

Tahun ini juga ambil mata kuliahnya cukup banyak dan maksa sih sayanya. Kalo untuk mata kuliah apa-apanya dan jumlahnya nanti dikasih tau ada link blog di paling akhir post. Belum lagi ikut organisasi dan kepanitiaan di himpunan dan kampus. Dan saya juga berkesempatan untuk jadi seorang ketua divisi untuk acara ospek jurusan. Berkat relasi kakak angkatan yang didapat, siap-siap aja buat anak Arsi tingkat 2 dan 3 untuk di-hire jadi maketor anak TA tingkat 4. Siapkan banget lah yah untuk di tingkat 3 ini mental dan fisiknya, karena akan sangat terasa gimana caranya ngimbangin kuliah dan organisasi.

4
Siap banget yah untuk milih mau KP (Kerja Praktik profesi Arsitek) dulu atau TA (Tugas Akhir) dulu. Waktu saya di awal tingkat 4, di jurusan Arsi sempet ada stereotype, kalau TA harus didahuluin sebelum KP, jangan terlalu dipercaya lah yah. Ikutin kata hati kita aja. Kalau saya sih jujur pengennya KP dulu karena supaya nanti pas bikin TA “feel” merancangnya dan “feel” realisasinya tuh dapat banget. Nyatanya sih saya terjebak stereotype itu. Tapi itu juga gapapa, karena saya bisa merasa sangat mengerti apa yang lagi saya rancang dan sesuai minat saya untuk terakhir kalinya kuliah di ITB ini. Berikan yang terbaik yang saya bisa, meskipun harus berjuang sendiri seperti pake laptop seadanya (padahal kita bisa nyewa komputer dari labkom Arsi), bikin maket buat sidang sendiri (ini menyedihkan sih, harusnya bisa hire maketor aja tapi apalah daya ga punya uang cukup) dan sidang terakhir sendirian (karena pas hari H sidang malah sakit, jadinya susulan sendirian).

Senang, sedih, susah, semangat, santai, semuanya ada. Selama status jadi mahasiswa itu susah gampang, susah karena kita harus lebih mengenal diri kita, memulai merealisasikan mimpi kita, dan membuka gerbang diri kita, gampang karena masih bisa dapet diskonan kemana-mana hahaha. Saya bukan orang yang luar biasa, tapi saya juga ga mau jadi yang biasa-biasa aja. Jadi, untuk 4 tahun ini, saya mau ucapin terima kasih kepada semua orang yang terlibat dalam hidup saya di perkampusan ITB. Mohon maaf kalo saya punya muka jutek, tapi ga berarti saya ga bisa senyum. Udah itu aja deh, asa sedih dan pengen langsung cepet selesai segala prosesi untuk wisudanya. Ayo lanjut ke 5!

lanjutan 5 bisa dibaca di tumblr claudiamarsya.tumblr.com

Catatan tambahan:

link mata kuliah yang saya ambil dan jumlah-jumlahnya dan perubahan-perubahannya (saya aja yah bukan umum). http://thearchstories.blogspot.com/2014/01/the-lecture.html

Untuk informasi personal aja kalau bingung siapa saya. Saya Tesya, lulus dari SMAN 5 Bandung, fakultas SAPPK, jurusan Arsitektur, di ITB tahun 2011 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s