ARCRAFTURE IS READY!

Sekian kali ganti nama dari claudiamarsya terus adajanakarsi sampai akhirnya diputuskan nama terakhir akun ini menjadi ARCRAFTURE. Asal-usul dari Arcrafture atau singkatnya jadi Arca, lumayan panjang ceritanya. Para pembaca di sini akan disebut sebagai Acarer (terserah mau dibaca acarer/akarer/acar-er).

Arca di sini melanjutkan postingan tentang arsitekturnya si Tesya yang ga diupdate-update. Jadi bukan cuma karya Arca saja yang akan ditampilkan tapi akan banyak topik yang bisa dibahas, mulai dari papercraft, crafting, decorating, desain, interior, arsitektur, curhatan, tips tips kecil ala Arca, hobi Arca, blog atau karya favorit Arca baik nasional maupun internasional, dan lain sebagainya.

Arca juga siap selalu bersedia dan terbuka untuk menerima komentar kritik saran dan akan Arca balas jika ada yang bertanya. Jadi, mari kita mulai hidup yang baru dengan Arca! Stay tune terus ya! Jangan lupa follow IG Arca di @arcrafture

IMG_7119 c

karya pertama Arca membuat papercraft Flower Wreath

Karya Arsitektur di Kampus ITB (4) – Perpustakaan Pusat

Perpustakaan Pusat (1983-1990)

20150524_141820

Perpustakaan Pusat dari sisi timur 

  • Sejarah

Pada tahun 1975, ITB berencana untuk membangun gedung perpustakaan yang dirancang sesuai dengan fungsi perpustakaan perguruan tinggi. Gedung perpustakaan mulai dirancang oleh seorang arsitek lulusan ITB, Slamet Wirasonjaya. Gedung seluas 9.000 m2 di bagian utara kampus ini selesai dibangun dan mulai ditempati sejak pertengahan tahun 1987. Sebelumnya perpustakaan ITB terletak di Aula Barat.

Pembangunan ini merupakan tahap pertama dari rencana bangunan perpustakaan yang jumlah totalnya mencapai luas 16.000 meter persegi. Tahap kedua pembangunan gedung perpustakaan baru akan dilaksanakan setelah gedung tahap pertama terisi penuh. Hal ini diperkirakan baru akan tercapai setelah gedung tahap pertama dioperasikan selama 25 tahun. Namun, setelah 28 tahun beroperasi, hingga saat ini belum diketahui lagi bagaimana lanjutan rencana pembangunan tahap kedua tersebut. Karena lahan yang diperkirakan akan menjadi rencana berikutnya yaitu yang berada di sisi timur perpustakaan telah dikembangkan menjadi bangunan Center for Advanced Studies (CAS) dan Center for Research and Community Services (CRCS) yang fungsinya berbasis riset dan pelayanan masyarakat.

  • Analisis desain

Gubahan bentuk bangunan ini merupakan kompromi antara bentuk dan konteks lokasi; hasil sintesis antara ekspresi bentuk yang menyimbolkan tumpukan buku dan letaknya yang berada di area tempat ‘persinggungan’ dengan sumbu imajiner kampus ITB. Plastisitas material beton memungkinkan terwujudnya ruang dan bentuk seperti yang diharapkan.” – SLW, Dhian Damajani (2006:37).

Bentuk gedung perpustakaan sangat unik dan menunjukkan ciri khas arsiteknya, Slamet Wirasonjaya berupa bentuk lengkung dan inovasi bangunan. Dengan pendekatan analogi, menurut Beliau, bentuk bangunan ini terlihat seperti tumpukan buku pada rak. Bentuk yang berundak-undak seperti tumpukan buku ini dapat terlihat dari sisi utara dan selatan bangunan. Selain itu, ciri khas bentuk-bentuk lengkung diterapkan secara berulang pada bagian bentukan buku dan terdapat pada bagian pintu utama di sisi barat bangunan. Bentuk lengkung pada sisi pintu utama menggunakan bahan fiberglass.

20150524_142100

Area masuk di bagian depan Gedung Perpustakaan terlihat bangunan yang berundak dan lengkungan-lengkungan bagian gerbang

Penggunaan material beton menjadi ciri khas gaya arsitektur yang sedang tren pada saat pembangunan Gedung Perpustakaan. Selain itu, material beton ini juga merupakan material yang dapat menyesuaikan dengan bentuk dan keinginan perancang yang melengkung serta bersifat plastis. Material beton ini murni digunakan pada bagian eksterior bangunan berupa fasade dan dinding luar serta struktur utama berupa beton bertulang. Kejujuran material dan struktur ini merupakan salah satu ciri khas dari perancang.

Penerapan sistem ketropisan pada bangunan tentunya tidak dilupakan oleh perancang. Dengan bentuk pendekatan analogi, bangunan juga harus menyesuaikan dengan iklim tropis dan pencahayaan. Bentuk bangunan memanjang secara utara dan selatan. Untuk bagian sisi yang terkena langsung sinar matahari di barat dan timur, bangunan diselesaikan dengan minimnya bukaan seperti pintu dan jendela. Bukaan ini justru diperbanyak pada bagian utara dan selatan yang merupakan sisi terpendek pada bangunan.

Selain inovasi bentuk bangunan, Perpustakaan ITB ini juga berinovasi di bidang teknologi dalam sistem penghawaan bangunan. Bangunan perpustakaan ini merupakan gedung pertama yang menggunakan AC sentral di ITB.

  • Faktor keterkaitan desain

Pada awal perencanaan, perancang ingin menggunakan material metal pada fasade. Namun, diperkirakan terdapat faktor internal yang mempengaruhi proses pengembangan rancangan. Akibatnya, permukaan gedung perpustakaan hanya berupa material beton yang berlapis cat berwarna putih. Setelah bangunan mulai beroperasi, tampak luar bangunan semakin hari semakin terlihat kusam dan berlumut. Hal ini tentunya diakibatkan karena bangunan bermaterial beton yang langsung terpapar sinar matahari dan hujan secara langsung.

tumblr_llv81jXjF61qze1fv

Seluruh bagian luar gedung Perpustakaan Pusat “telanjang” dengan material beton

Pada proses perawatan dan pemeliharaan, rencana fasade bangunan berubah ekspresi lagi yang diperkirakan adanya faktor tren gaya bangunan. Penggunaan keramik pada bagian eksterior bangunan sedang menjadi tren pada bangunan-bangunan lain di sekitarnya seperti pertokoan dan bangunan publik. Karena tidak ingin ketinggalan zaman, perubahan rencana fasade pun terjadi dengan dilapisi keramik berwarna biru pada seluruh bagian eksterior bangunan. Perubahan ini mengundang persepsi negatif terhadap warga kampus ITB saat itu sehingga gedung ini biasa disebut sebagai “WC Raksasa”.

1261473666

Gedung Perpustakaan Pusat diselimuti material keramik berwarna biru yang sedang tren pada masanya

Fenomena persepsi tersebut tentunya dapat mempengaruhi kinerja sistem perpustakaan di dalamnya. Tidak banyak mahasiswa yang mengunjungi dan betah berdiam pada saat itu. Akibatnya perlu diadakan perubahan lagi terhadap rencana fasade bangunan perpustakaan. Akhirnya, pada tahun 2009 keramik-keramik yang menempel tersebut mulai dirombak dan diganti menjadi berbahan panel komposit yang berwarna silver metal. Hal ini mungkin dipengaruhi karena ingin menyesuaikan dengan rencana awal si perancang.

IMG_3511

Panel metal yang hingga saat ini masih menjadi bagian modern dari bangunan Perpustakaan Pusat

  • Kajian konteks

Dengan berbagai kondisi yang turut mempengaruhi kinerja dan kualitas perpustakaan, begitu banyak tantangan yang harus dihadapi oleh UPT Perpustakaan ITB. Salah satu masalah utama adalah membangun koleksi yang selalu selaras dengan perkembangan dunia ilmu pengetahuan mutakhir yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi. Hal ini begitu sulit diwujudkan mengingat diperlukan dukungan dana yang memadai. Namun, upaya lain tetap dapat ditempuh dan ditingkatkan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas perpustakaan, termasuk membangun fasilitas untuk koleksinya serta dengan membina dan mengembangkan jejaring (kerjasama) dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun di luar negeri. Diharapkan dengan jejaring yang kuat, UPT Perpustakaan ITB dapat mendukung visi dan misi Institut Teknologi Bandung sebagai institusi pendidikan, yang bukan hanya bermanfaat bagi sivitas akademika ITB semata tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat luas.

Demikian beberapa serial karya arsitektur bangunan-bangunan di Kampus ITB. Masih banyak bangunan di Kampus ITB lainnya yang menarik yang dapat dianalisis dari segi desain atau perancangannya. Semoga dapat menambah pengetahuan pembaca mengenai bangunan di Kampus ITB yang tidak hanya terkenal berupa sebutan tetapi dari sisi arsitekturnya juga yang menarik.

Sumber Referensi

  1. Institut Teknologi Bandung, Undergraduate Student Handbook. Bandung: Penerbit ITB.
  2. 2014. Institut Teknologi Bandung, Knowledge Center, UPT Perpustakaan ITB. Bandung: Penerbit ITB.

Damajani, Dhian. 2006. SLW. Bandung: Program Studi Arsitektur ITB.

Rahaju BUK., S. 1996. Pembangunan Kampus ITB 1989-1996: Mewujudkan Impian dan Cita-Cita. Bandung: Penerbit ITB.

http://arsitekturbicara.wordpress.com (24/05/2015)

http://arun1st.wordpress.com (24/05/2015)

http://ditbang.itb.ac.id (24/05/2015)

http://id.geoview.info (24/05/2015)

http://if99.net (25/05/2015)

http://kurniawangunadi.tumblr.com (24/05/2015)

http://lib.itb.ac.id/tentang-perpustakaan (24/05/2015)

http://unalux.wordpress.com (24/05/2015)

Karya Arsitektur di Kampus ITB (3) – Labtek IV

Labtek IV (Teknik Geologi dan Teknik Pertambangan) (1973-1978)

labtek41

Labtek IV tampak sisi barat

  • Sejarah

Pada periode ini pembangunan masih tetap diprioritaskan bagi gedung-gedung yang melayani kepentingan umum, terutama yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran. Fasilitas yang dibangun dalam periode ini, salah satunya adalah Labtek IV yang digunakan oleh beberapa departemen di FIKTM atau yang saat ini terbagi dua menjadi FITB dan FTTM. Bangunan tersebut terdiri dari Pusat Pendidikan di Photogrammetric, Kartografi Jurusan Teknik Geodesi, dan Surya Laboratorium di Departemen Mekanika.

Seorang Dosen Geologi ITB menyimpan sebuah foto ITB tempo dulu mengenai Labtek IV yang baru selesai dibangun. Gedung ini digunakan untuk program studi Teknik Geologi dan Teknik Pertambangan ITB. Pada gambar di bawah ini, terdapat kerbau yang sedang digembalakan. Fenomena ini kemungkinan terjadi karena pada bagian utara kampus ITB belum banyak bangunan seperti saat ini. Bentuk bangunan Labtek IV pada awalnya hanya berupa seperti pada gambar di bawah ini.

gedung-geologi-itb

Labtek IV tempo dulu awal selesai pembangunan dan adanya kerbau-kerbau

  • Analisis desain

Pada bagian sisi barat bangunan yang terlihat pada gambar tempo dulu sebelumnya, pola kotak-kotak muncul kembali dan diterapkan pada bangunan Labtek IV. Komposisi bukaan pada sisi tersebut sangat menarik dengan dinding kerawang dan bentuk railing yang tidak biasa. Bukaan pada sisi memanjang dimaksimalkan dengan memperbanyak jendela kaca dan dekorasi tambahan berupa garis-garis vertikal. Sedangkan pada sisi selatan terdapat skylight yang digunakan sepanjang sisi atap bangunan sehingga bentuk bangunan berimplikasi pada sisi barat yang dapat dilihat terdapat segitiga tambahan di atasnya.

20150524_141238

Tampak memanjang di sisi utara Labtek IV didominasi bukaan berupa kaca jendela dan secondary skin serta pola garis-garis vertikal antar jendela

Bangunan yang terdiri dari tiga lantai ini bertahan lama hingga sekarang. Bahkan bangunan ini bentuknya diperpanjang ke arah barat beberapa tahun setelahnya. Berdasarkan pengamatan, keseluruhan proses penambahan membuat panjang bangunan di sisi utara mencapai sekitar 100 meter. Bangunan ditambah memanjang dari arah barat ke timur kemudian dilanjutkan ke arah selatan.

Material yang digunakan pada atap bangunan tambahan menggunakan bahan beton dan bentuk atap datar. Struktur bangunan menggunakan beton bertulang dan confined masonry. Material dinding menggunakan batu bata. Penambahan lapisan keramik berwarna merah menjadi ciri khas utama dari bangunan ini yang dipasang menerus dari bawah hingga atap. Bagian bangunan yang berlapis keramik ini diperkirakan berfungsi untuk sarana utilitas bangunan. Di samping itu, bagian tersebut juga berkesan seperti membelah bangunan menjadi beberapa bagian. Muka bangunan lama dan bangunan tambahan cukup berbeda pada sisi utara. Namun, muka bangunan tambahan tidak kalah menarik dibanding dengan muka bangunan lama.

labtek42

Terdapat dua bagian bangunan yang berlapis keramik warna merah di sisi utara

Penggunaan sistem sun shading juga diterapkan pada bangunan Labtek IV. Sistem transportasi vertikal sengaja diletakkan di bagian luar mengikuti bentuk awal rancangan tangga di sisi barat dan timur. Selain itu dapat dilihat juga penggunaan sistem secondary skin pada bagian sisi bukaan jendela. Bentuk yang berundak-undak juga menjadi keunikan dari bangunan ini. Penggunaan warna merah juga menjadi aksen untuk sun shading bangunan yang berada di bagian paling atas bangunan.

labtek43

Bangunan tambahan di sebelah selatan dengan facade sistem sun shading dan secondary skin serta aksen warna merah pada bagian atas

labtek44

Komposisi tampak sisi timur yang sama dengan tampak sisi barat dan bentuk bangunan yang berundak-undak

  • Faktor keterkaitan desain

Penggunaan pola kotak-kotak pada muka sisi barat bangunan labtek IV mengingatkan kita pada pola kotak-kotak bangunan SBM. Dapat diperkirakan, pola tersebut dipengaruhi dengan bangunan SBM yang sudah ada sebelumnya dan berada tepat di seberang belahan lainnya. Selain itu, sistem sun shading yang diterapkan pada bangunan tambahan labtek IV juga diperkirakan menyesuaikan dengan sistem yang ada di Gedung SBM, tetapi dengan bentuk yang berbeda.

Material keramik berwarna merah juga diperkirakan akibat pengaruh tren bangunan yang ada pada saat itu. Berbeda halnya dengan keramik pada bangunan perpustakaan, keramik pada bangunan tambahan Labtek IV bertahan hingga saat ini dan menjadi kelebihan tersendiri untuk bagian muka bangunan. Penggunaan warna merah pada bagian atas bangunan juga sama halnya dengan bangunan Labtek I, Gedung PLN, Gedung TPB, TVST, dan Oktagon yang telah ada sebelumnya. Selain itu, penggunaan material setiap komponen bangunan Labtek IV terpengaruh dari kelima bangunan tersebut.

bersambung ke Karya Arsitektur di Kampus ITB (4)