Karya Arsitektur di Kampus ITB (3) – Labtek IV

Labtek IV (Teknik Geologi dan Teknik Pertambangan) (1973-1978)

labtek41

Labtek IV tampak sisi barat

  • Sejarah

Pada periode ini pembangunan masih tetap diprioritaskan bagi gedung-gedung yang melayani kepentingan umum, terutama yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran. Fasilitas yang dibangun dalam periode ini, salah satunya adalah Labtek IV yang digunakan oleh beberapa departemen di FIKTM atau yang saat ini terbagi dua menjadi FITB dan FTTM. Bangunan tersebut terdiri dari Pusat Pendidikan di Photogrammetric, Kartografi Jurusan Teknik Geodesi, dan Surya Laboratorium di Departemen Mekanika.

Seorang Dosen Geologi ITB menyimpan sebuah foto ITB tempo dulu mengenai Labtek IV yang baru selesai dibangun. Gedung ini digunakan untuk program studi Teknik Geologi dan Teknik Pertambangan ITB. Pada gambar di bawah ini, terdapat kerbau yang sedang digembalakan. Fenomena ini kemungkinan terjadi karena pada bagian utara kampus ITB belum banyak bangunan seperti saat ini. Bentuk bangunan Labtek IV pada awalnya hanya berupa seperti pada gambar di bawah ini.

gedung-geologi-itb

Labtek IV tempo dulu awal selesai pembangunan dan adanya kerbau-kerbau

  • Analisis desain

Pada bagian sisi barat bangunan yang terlihat pada gambar tempo dulu sebelumnya, pola kotak-kotak muncul kembali dan diterapkan pada bangunan Labtek IV. Komposisi bukaan pada sisi tersebut sangat menarik dengan dinding kerawang dan bentuk railing yang tidak biasa. Bukaan pada sisi memanjang dimaksimalkan dengan memperbanyak jendela kaca dan dekorasi tambahan berupa garis-garis vertikal. Sedangkan pada sisi selatan terdapat skylight yang digunakan sepanjang sisi atap bangunan sehingga bentuk bangunan berimplikasi pada sisi barat yang dapat dilihat terdapat segitiga tambahan di atasnya.

20150524_141238

Tampak memanjang di sisi utara Labtek IV didominasi bukaan berupa kaca jendela dan secondary skin serta pola garis-garis vertikal antar jendela

Bangunan yang terdiri dari tiga lantai ini bertahan lama hingga sekarang. Bahkan bangunan ini bentuknya diperpanjang ke arah barat beberapa tahun setelahnya. Berdasarkan pengamatan, keseluruhan proses penambahan membuat panjang bangunan di sisi utara mencapai sekitar 100 meter. Bangunan ditambah memanjang dari arah barat ke timur kemudian dilanjutkan ke arah selatan.

Material yang digunakan pada atap bangunan tambahan menggunakan bahan beton dan bentuk atap datar. Struktur bangunan menggunakan beton bertulang dan confined masonry. Material dinding menggunakan batu bata. Penambahan lapisan keramik berwarna merah menjadi ciri khas utama dari bangunan ini yang dipasang menerus dari bawah hingga atap. Bagian bangunan yang berlapis keramik ini diperkirakan berfungsi untuk sarana utilitas bangunan. Di samping itu, bagian tersebut juga berkesan seperti membelah bangunan menjadi beberapa bagian. Muka bangunan lama dan bangunan tambahan cukup berbeda pada sisi utara. Namun, muka bangunan tambahan tidak kalah menarik dibanding dengan muka bangunan lama.

labtek42

Terdapat dua bagian bangunan yang berlapis keramik warna merah di sisi utara

Penggunaan sistem sun shading juga diterapkan pada bangunan Labtek IV. Sistem transportasi vertikal sengaja diletakkan di bagian luar mengikuti bentuk awal rancangan tangga di sisi barat dan timur. Selain itu dapat dilihat juga penggunaan sistem secondary skin pada bagian sisi bukaan jendela. Bentuk yang berundak-undak juga menjadi keunikan dari bangunan ini. Penggunaan warna merah juga menjadi aksen untuk sun shading bangunan yang berada di bagian paling atas bangunan.

labtek43

Bangunan tambahan di sebelah selatan dengan facade sistem sun shading dan secondary skin serta aksen warna merah pada bagian atas

labtek44

Komposisi tampak sisi timur yang sama dengan tampak sisi barat dan bentuk bangunan yang berundak-undak

  • Faktor keterkaitan desain

Penggunaan pola kotak-kotak pada muka sisi barat bangunan labtek IV mengingatkan kita pada pola kotak-kotak bangunan SBM. Dapat diperkirakan, pola tersebut dipengaruhi dengan bangunan SBM yang sudah ada sebelumnya dan berada tepat di seberang belahan lainnya. Selain itu, sistem sun shading yang diterapkan pada bangunan tambahan labtek IV juga diperkirakan menyesuaikan dengan sistem yang ada di Gedung SBM, tetapi dengan bentuk yang berbeda.

Material keramik berwarna merah juga diperkirakan akibat pengaruh tren bangunan yang ada pada saat itu. Berbeda halnya dengan keramik pada bangunan perpustakaan, keramik pada bangunan tambahan Labtek IV bertahan hingga saat ini dan menjadi kelebihan tersendiri untuk bagian muka bangunan. Penggunaan warna merah pada bagian atas bangunan juga sama halnya dengan bangunan Labtek I, Gedung PLN, Gedung TPB, TVST, dan Oktagon yang telah ada sebelumnya. Selain itu, penggunaan material setiap komponen bangunan Labtek IV terpengaruh dari kelima bangunan tersebut.

bersambung ke Karya Arsitektur di Kampus ITB (4)

Iklan

Karya Arsitektur di Kampus ITB (2) – Gedung PLN

Gedung PLN (Laboratorium Teknik Elektro) (1968-1973)

pln1

Gedung PLN dari sisi utara

  • Sejarah

Pada periode ini, terjadi perubahan dalam sistem akademik di ITB. Dengan adanya perubahan ini, perlu dibangun fasilitas perkuliahan umum. Fasilitas tersebut yaitu Gedung TVST dan Oktagon yang dilengkapi dengan fasilitas TV sirkuit tertutup. Terdapat juga dua bangunan yang berbeda di depan kedua bangunan tersebut yang dikenal sebagai Gedung PLN dan Gedung TPB (Laboratorium Fisika Dasar). Bangunan lain yang dibangun dalam periode ini yaitu Labtek I, II, dan III.

Bangunan Gedung PLN dan Gedung TPB tersebut dirancang oleh Soedibjo Prodjoseputro. Beliau merupakan salah satu pendiri Ikatan Arsitek Indonesia. Beliau juga merupakan pendiri sebuah biro konsultan arsitek bernama Team-4. Bangunan yang terkenal disebut Gedung PLN merupakan hasil kerja sama PLN dan ITB untuk menyediakan fasilitas penelitian bagi mahasiswa Teknik Elektro.

  • Analisis desain

Gedung PLN terdiri dari dua lantai bangunan yang fungsi utamanya merupakan fasilitas laboratorium. Lantai 1 merupakan laboratorium untuk Penelitian Sistem Tenaga dan Distribusi serta lantai 2 merupakan laboratorium untuk Teknik Tegangan Tinggi dan Pengukuran Listrik. Bentuk bangunan dari gedung PLN ini memanjang dari timur ke barat. Terletak di bagian selatan dari Gedung TPB serta keduanya mempunyai ciri khas yang sama dari segi arsitektur bangunannya.

Perancang berusaha untuk beradaptasi dengan iklim tropis dan mengaplikasikan pada bangunannya dengan memanfaatkan pencahayaan alami dari sinar matahari. Sisi bangunan yang memanjang pada bagian utara dan selatan dimanfaatkan untuk memaksimalkan bukaan berupa jendela. Bidang jendela ini kemudian ditambahkan dengan sistem secondary skin untuk mengurangi intensitas cahaya sinar matahari yang berlebihan yang diletakkan pada bagian atas jendela. Pintu utama bangunan terletak di sisi barat dan menjorok ke dalam akibat menanggulangi sinar matahari dari barat. Selain sistem tersebut, juga terdapat kanopi untuk penyangga rangka secondary skin.

20150524_143504

Sistem secondary skin pada sisi utara bangunan bagian atas jendela dan atap kanopi untuk penyangga

Bentuk atap bagian atas terlihat datar diberi aksen tambahan berupa atap miring yang berfungsi sebagai tritisan. Penggunaan warna merah selain pada atap juga terdapat pada bagian bangunan tangga yang menempel di salah satu sisi bangunan. Warna ini memberi aksen yang berbeda pada visual bangunan. Seolah warna tersebut sangat mencolok dan menjadi ciri khas bentuk bangunan yang berbeda dari bangunan ITB lainnya.

20150524_143510

Aksen warna merah pada tangga dan atap

  • Faktor keterkaitan desain

Pada keempat bangunan yang telah dijelaskan sebelumnya termasuk Gedung PLN mempunyai keselarasan yang saling menyeimbangkan satu sama lain. Selain itu, jika dilihat dari segi materialnya, penggunaan atap yang diperkirakan menggunakan asbes fiber sedang menjadi tren saat itu. Bahkan material tersebut juga digunakan pada bangunan Labtek I yang tepat berada di sebelah timur Gedung PLN dan Gedung TPB. Kelima bangunan ini berkesan membentuk sebuah kawasan tersendiri dengan keselarasannya. Selain bagian atap, untuk secondary skin menggunakan alumunium yang diterpakan juga pada bangunan-bangunan tersebut.

bersambung ke Karya Arsitektur di Kampus ITB (3)

Karya Arsitektur di Kampus ITB – Gedung SBM

ITB yang terkenal merupakan salah satu bangunan kampus tertua di Indonesia terus mengalami perkembangan baik segi fisik maupun nonfisik. Perkembangan dalam segi fisik dapat dilihat dari proses perkembangan pembangunan akan kebutuhan fasilitas kegiatan di dalam kampus yang selaras dengan kemajuan pada zamannya. Dengan luas lahan yang terbatas, laju pembangunan di dalam kampus ITB dapat dibagi dalam beberapa periode tahun yang sesuai dengan ciri khasnya.

Pembangunan fasilitas tersebut tidak lepas dari aspek arsitektur. Karya arsitektur di dalam kampus ITB ini akan menjadi fokus utama tulisan. Periode waktu pembangunan yang akan dibahas yaitu dalam kurun tahun 1950-1990 atau tepatnya periode pasca kemerdekaan Indonesia. Pembangunan terdiri dari 5 tahap periode, yaitu 1950-an, 1968-1973, 1973-1978, 1978-1983, dan 1983-1990. Dalam hal ini, penulis akan membahas beberapa gedung yang dibangun pada masing-masing periode diantaranya yaitu Gedung SBM (1950-an), Gedung PLN (1973-1978), Labtek IV (1978-1983) dan Perpustakaan Pusat (1983-1990).

Gedung SBM (1950-an)

sbm1

Gedung SBM tampak sisi timur

  • Sejarah

Pada era ini, anggaran pembangunan fisik kampus diperoleh dari sejumlah dana dan material yang merupakan bagian rampasan perang. Fasilitas banyak dibangun untuk keperluan departemen beberapa program studi. Selain itu dibangun pula beberapa gedung lainnya yaitu Balai Pertemuan Ilmiah di Jalan Surapati dan Gedung Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman yang terletak di sisi utara kampus.

Gedung Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman dihibahkan dari kepemilikan PU ke ITB. Gedung ini dirancang oleh arsitek berkebangsaan Austria yaitu Natmeisnig dan Kopeignig yang saat itu bergabung dengan Biro Arsitek Sangkuriang (Rahaju BUK, 1996). Pada saat yang sama, arsitek tersebut juga merancang Gedung BPI. Pada tahun 2004, gedung yang beberapa kali mengalami perubahan fungsi tersebut direnovasi dan direvitalisasi untuk dijadikan tempat perkuliahan. Hal tersebut melibatkan desainer interior yang berperan besar dalam mengubah interior gedung tua menjadi gedung baru yang disesuaikan dengan fungsi belajar. Saat ini, gedung tersebut kita ketahui sebagai gedung Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM).

  • Analisis Desain

Pertama kali yang dapat dilihat oleh mata kita, visual dari bangunan ini yaitu pola kotak-kotak yang terdapat pada bagian sisi utara, timur, dan selatan. Kotak-kotak persegi menjadi ciri khas dan keunikan dari bangunan yang paling modern pada saat itu. Kotak-kotak tersebut merupakan komponen façade (tampak) bangunan yang menggunakan sistem sun shading. Sistem ini mengadaptasi lingkungan tropis dengan mempertimbangkan aspek pencahayaan dari sinar matahari. Komponen tersebut berfungsi untuk mengurangi masuknya intensitas sinar matahari melalui jendela dan pintu yang didominasi oleh material kaca pada bidang bangunan.

sbm2

Pola kotak-kotak pada tampak sisi selatan

Teknologi baru yang diterapkan pada Gedung SBM ini yaitu produksi massal prefabrication atau produksi yang dibuat di pabrik sebelumnya. Material komponen pola persegi menggunakan beton yang dicetak massal di pabrik karena kebutuhan yang jumlahnya berkisar lebih dari seratus buah. Penyelesaian pada bidang dinding dibuat dengan memanipulasi teknik pertukangan dalam penyelesaiannya sehingga memunculkan kesan rustic. Material kaca yang diletakkan sebidang dan lebar mencirikan adanya transparasi ruang luar dan ruang dalam.

sbm3

Komponen pola persegi dengan kedalaman kurang lebih 90 cm di tampak sisi barat Gedung SBM

  • Faktor keterkaitan desain

Gedung SBM pada awalnya dibangun pada saat yang sama dengan gedung BPI pada tahun 1950-an. Gedung BPI menerapkan gaya arsitektur cubism (internasionalism). Di Indonesia, gaya arsitektur ini dikenal dengan gaya Jengki yang berkembang pada tahun 1950-1960. Pada masa itu, beberapa arsitek Belanda dipulangkan ke negaranya dan terdapat juga beberapa arsitek Belanda dan kebangsaan lainnya yang masih menetap di Indonesia.

Karakter arsitektur modern yang dibawa yaitu berupa penerapan ide bangunan kotak dan geometris murni yang saat itu diterapkan secara internasional. Maraknya produksi massal juga mempengaruhi gubahan bentuk dan bahan bangunan yang diterapkan. Pada masa ini, produk arsitektur menjadi terlalu sederhana karena penekanan pada ruang, sehingga tidak ada bedanya karya arsitek dan bukan arsitek. Namun, di sisi lain arsitek juga ditantang dan berkesempatan untuk memanfaatkan masa tersebut dalam mengeksplorasi bentuk dengan menyesuaikan ilmu dan teknologi yang ada.

Sistem sun shading dengan pola komponen persegi terinspirasi dari salah satu karya arsitek terkenal pada era ini, Le Corbusier, bangunan unit perumahan yaitu Unité d’Habitation atau disebut juga Cité radieuse (Radiant City) di Mersailles dan Berlin. Gaya modernis pada bangunan Le Corbusier dibangun antara tahun 1947 dan 1952. Sistem ini juga merupakan salah satu prinsip yang sering digunakan oleh Le Corbusier.

118966

Salah satu tampak bangunan Unite de Habitation karya Le Corbusier

Pada era arsitektur modern, akibat pengaruh revolusi industri, karakter material yang kuat yang dapat dibuat secara massal yaitu beton, baja, dan kaca. Penggunaan material untuk bangunan yang dominan pada saat itu menggunakan beton. Material kaca juga dimanfaatkan untuk mengekspresikan ruang yang lebih terbuka. Kaca yang lebar diletakkan pada bidang-bidang sehingga bidang polos kaca itulah yang sangat dimunculkan dalam bangunan modern.

bersambung, lanjut ke Karya Arsitektur di Kampus ITB (2)

lec-ture#1 Notes: Point Karakter Soekarno

Arca ga begitu yakin ingin posting catatan kuliah ini, kesannya mungkin benar-benar hanya menyalin tulisan yang ada dan mendengar percakapan diskusi di kelas. Waktu post pun kurang tepat yah, ga ada spesialnya untuk tiba2 mengingat sesosok pahlawan nasional negara kita, Ir. Soekarno. Tetapi karena Arca geram ingin mengosongkan drafts, jadi Arca post aja yah. Semoga bisa menjadi pelajaran dan teladan yang selalu dapat dicontoh oleh kita sebagai warganya. Untuk gambar menyusul yah, yang pasti akan dibuat berbeda dan ga ada duanya kalau di-search di Google.

Keterlibatan Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sangat kuat dan diakui oleh seluruh bangsa. Banyak film dokumenter yang merekam segala kegiatan Soekarno dalam berjuang bersama rakyat Indonesia. Selain itu, Soekarno juga sangat memperhatikan seni dan arsitektur. Beliau adalah orang yang bersemangat, seorang arsitek, presiden yang mengamalkan dan menerapkan ilmu arsitektur dengan peran lainnya. Beliau telah membangun bangsa dengan arsitektur, bangunan, dan kota. Berikut ini karakter Soekarno yang dapat kita rasakan kembali kehadirannya saat merdeka.

  • karismatik, teguh
  • menentang hal yang berbau barat (imperialis dan kolonialis)
  • ingin pemuda berkarakter kuat dan jiwa revolusioner
  • nation building
  • kebanggaan berbangsa dan bernegara
  • mental dan karakter kebangsaan
  • berbagi mimpi tentang kejayaan Indonesia
  • bangkit dari keterpurukan
  • ikon dunia (1945-1965), pahlawan bangsa Asia-Afrika
  • bangsa yang merdeka, anti-kolonial, anti-imperialisme
  • kolektor dan patron seni rupa
  • dukungan finansial dan moral bagi seniman
  • menempatkan dan mempromosikan karya seni rupa
  • memiliki sense of aesthetic
  • punya ciri khas berpakaian: kemeja putih, pantalon, berdasi (fashionable)
  • kecintaan Soekarno: teraga (arsitektur dan seni rupa) dan tak teraga (wanita, batik, tari daerah)

Selain itu, beliau juga membawa gubahan-gubahan dan trend-trend dalam bidang seni dan arsitektur. Tidak hanya terkait seni, tetapi memperkenalkan arsitektur juga dalam berbangsa dan bernegara. Memberi suasana Indonesia dengan semangat yang melatari perkembangan bangsa dan karya seni. Semoga jasa, ilmu, serta perjuangan Beliau bisa terus diingat oleh warga-warganya agar menjadi pahal dan membawanya menuju surga yang diimpikan. aamiin.

-Catatan Kuliah pribadi, AR3232 Arsitektur Indonesia Pasca Kemerdekaan, 2015/01/28

Liputan Talkshow: Arsitek Generasi Pertama Indonesia

Sebelumnya telah dijelaskan mengenai pameran arsitektur dalam profil dan karya yang bertempat di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung. Berikut ini akan dipaparkan lebih lanjut mengenai isi talkshow yang diselenggarakan pada tanggal 21 Februari 2015. Topik yang dibawa adalah ‘Objektivitas dalam Subjektivitas’. Meskipun talkshow tersebut tidak menghadirkan para arsitek yang telah disebutkan pada pengumuman, acara semakin menarik dengan hadirnya Ahmad Noe’man. Secara tidak langsung, acara ini telah menghadirkan arsitek Indonesia dari lima generasi. Arsitek tersebut antara lain Ahmad Noe’man, Fauzan Noe’man, Yuswadi Saliya, Sandi Siregar, dan Budi Sukada sebagai moderator.

20150221_172828

Pembicara Talkshow Arsitek Generasi Pertama Indonesia (dari kiri ke kanan: Budi Sukada, Sandi Siregar, Yuswadi Saliya, Ahmad Noe’man, Fauzan Noe’man)

Ahmad Noe’man

Awal bincang-bincang dimulai dari menceritakan perjalanan karir Ahmad Noe’man oleh anaknya Fauzan Noe’man. Ahmad Noe’man masuk kuliah di ITB pada tahun 1948. Saat itu, jurusan arsitektur belum ada. Kemudian, beliau masuk ke jurusan sipil karena mata kuliah arsitektur bagian dari pendidikan insinyur sipil. Barulah pada Oktober tahun 1950, ITB membuka jurusan arsitektur. Ahmad Noe’man pun langsung pindah karena beliau sangat minat dan menggemari ilmu membangun terutama arsitektur.

Saat kuliah di ITB, Ahmad Noe’man diajar oleh satu dosen utama bernama Van Romondt. Menurut beliau, dosen berkebangsaan Belanda tersebut berpikir lebih maju dan berbeda dari zamannya serta beliau merasa beruntung mempunyai dosen seperti Van Romondt. Dosen tersebut juga mengingatkan bahwa desain yang baik adalah desain yang melihat keterbatasan teknologi dan sesuai dengan lingkungan saat itu, serta mengingatkan akan kreativitas dalam berkarya.

Setelah lulus dari ITB, proyek pertama Ahmad Noe’man yaitu merenovasi masjid yang merupakan wakaf dari ayahnya di Garut. Saat beliau masih kecil, ayahnya membuat masjid di Riau dengan relung dari besi. Berbagai kesulitan pada saat pembangunan tersebut pun terjadi. Dengan melihat hal itu, beliau pun belajar dari pengalaman tersebut. Kemudian, dengan pemikiran beliau yang cukup berbeda, beliau sudah mulai membuat rancangan yang lebih modern dengan ide tanpa kolomnya.

Salah satu karya terbesar dan agung yang menjadi pelopor dari Ahmad Noe’man adalah Masjid Salman. Masjid yang berdiri sekitar tahun 1960 memiliki konsep yang berbeda dengan masjid lainnya. Salman telah membangun masjid kampus pertama di Indonesia pada saat itu. Bagi beliau proyek ini merupakan kemudahan karena beliau sendiri selain merancang juga merupakan pemilik proyek sehingga lebih mengetahui bentuk ideal yang ingin dimunculkan pada karyanya.

20150221_133436

Panel Pameran karya Ahmad Noe’man: Masjid Salman ITB

Konsep perancangan terinspirasi dari kitab suci yaitu Al-Quran surat Al-Baqarah ayat ke 170, yang intinya apabila Allah menurunkan sesuatu yang baru, manusia tidak langsung mengambilnya, tetapi manusia cenderung ikut ajaran nenek moyangnya. Kemudian, beliau juga menganut kepercayaan bahwa ketika beribadah shalat di masjid agar tidak terputus shaf atau barisannya. Acuan-acuan tersebut diinterpretasikan ke dalam desain yaitu konsep bangunan yang ekstrim tanpa kolom di tengah ruang. Selain itu, dengan desain yang modern tersebut muncul pula pemikiran untuk tidak membuat kubah pada masjid. Menurut beliau, tidak ada ketentuan yang disebutkan bahwa sebuah masjid harus mempunyai kubah.

Ahmad Noe’man ini adalah orang yang sangat unik. Meskipun tidak berkesempatan melanjutkan sekolah ke luar negeri, seperti para arsitek lainnya, pendidikan yang didapat oleh beliau lebih banyak dari pengalaman. Beliau termasuk salah satu dari 18 arsitek muda pendiri IAI dan punya visi yang sama yaitu ‘Menuju Dunia Arsitektur Indonesia yang Sehat’. Dengan begitu, beliau juga merupakan arsitek generasi pertama dengan pemikirannya yang merdeka dan memelopori sebuah mahakarya yang menjadi inspirasi bagi generasi penerus.

Fauzan Noe’man

Setelah lulus SMA, ayahnya memberi kesempatan pada Fauzan Noe’man untuk melanjutkan sekolah di Amerika dengan mengambil pendidikan arsitektur selama empat tahun dan satu tahun untuk keprofesian. Kemudian, lulus pendidikan arsitektur pada tahun 1987. Mengingat usia ayahnya sudah menginjak 61 tahun, beliau pulang ke Indonesia dan melanjutkan profesi di Indonesia. Beliau juga magang di biro arsitek ayahnya selama tiga tahun.

Proyek pertama yang dilibatkan pada saat magang di biro Ahmad Noe’man yaitu rumah. Dari proyek kecil ini saja, Fauzan merasa ilmu yang didapatnya dari belajar di negara empat musim berbeda dengan tempat tinggal aslinya di negara dua musim. Sangat banyak hal yang diajarkan oleh ayahnya dengan tegas mengenai detail seperti tritisan, talang, konsep ruang dan sebagainya yang tidak diajarkan sebelumnya di Amerika. Ayahnya juga mengajarkan bahwa setiap garis adalah biaya.

Sebagai anak dari seorang arsitek generasi pertama, Fauzan Noe’man sendiri merasa heran dengan karir ayahnya di awal berarsitektur. Sang ayah sudah menghasilkan sebuah mahakarya yang modern dan sesuai zaman serta melihat kondisi iklim. Beliau juga beranggapan bahwa biasanya arsitek-arsitek hebat lainnya membuat sebuah mahakarya saat di akhir atau di tengah perjalanan karirnya. Sedangkan Ahmad Noe’man sejak awal berkarir sudah memiliki pemikiran yang berbeda tersebut. Hal yang tidak diherankan adalah beliau pasti sangat bangga mempunyai ayah seorang Ahmad Noe’man, salah satu arsitek generasi pertama di Indonesia.

Yuswadi Saliya

Pada tahun 1958 atau akhir tahun 1960 merupakan puncaknya modernisme, revolusi industri, dan modularitas terutama di daerah Eropa. Pada zaman itu pula, di Indonesia, arsitek baru muncul seperti Soejoedi dan Han Awal membawa pemikiran yang sangat baru. Arsitek-arsitek tersebut dan arsitek lainnya yang berkesempatan belajar di luar negeri terutama di daerah Eropa membawa angin modernisme itu ke Indonesia.

Di belahan negara lainnya, pada era yang sama, Oscar Niemeyer, arsitek Brazil sedang naik daun dan menjadi idola. Van Romondt yang pada saat itu merupakan dosen arsitek di ITB merupakan orang yang sangat rasional. Menurut pengajar dari Belanda tersebut, karya-karya di Brazil yang tipe kondisi iklimnya sama dengan Indonesia, memang luar biasa, tetapi terkesan hanya main-main saja.

Ahmad Noe’man merupakan pelopor tahun 1960-an dengan membangun masjid tanpa kubah. Beliau merupakan orang yang pemikirannya sangat terbuka, merdeka, dan mengandalkan sensitivitas. Menurut beliau, sensitivitas itu terbentuknya lama. Beliau beranggapan bahwa arsitek zaman dulu pemikirannya bersumber dari perasaan yang terdalam. Inspirasi bukan hanya dari referensi atau bahkan internet, tetapi lebih mencari penggabungan dari banyak variabel yang dapat menciptakan sesuatu yang lebih baru.

Sandi Siregar

Sandi A. Siregar merupakan akademisi yang juga berpraktik dari Unpar angkatan 1964. Pengalaman yang menarik diceritakan oleh beliau yaitu pernah kerja praktik dalam proyek-proyek Soejoedi. Selain itu, sebagai penutup pembicaran, beliau juga mengambil beberapa kesimpulan yaitu adanya semangat out of the box yang positif yang dibawa oleh Ahmad Noe’man dan bagaimana landasan pemikiran yang rasional dibandingkan dengan perasaan intuitif dalam merancang sebuah proyek bangunan.

Demikian, isi perbincangan yang diliput langsung dari acara talkshow Arsitek Generasi Pertama Indonesia. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan informasi atau perbedaan persepsi dalam tulisan ini.

Liputan: Pameran Arsitektur “Generasi Pertama Arsitek dalam Profil dan Karya”

10426275_854905254571630_5938344879509103225_n

Poster Pameran Arsitektur (sumber: facebook.com)

Pada tanggal 19 Februari hingga 22 Februari 2015, telah berlangsung pameran arsitektur yang berlokasi di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan No. 5, Bandung. Pameran arsitektur ini mengambil tema “Generasi Pertama Arsitektur Dalam Profil dan Karya”. Pameran tersebut merupakan rangkaian acara roadshow yang diselenggarakan oleh IAI Nasional bekerja sama dengan IAI Jawa Barat, FIMA Jawa Barat, dan Dinas Budaya dan Pariwisata Bandung. Pameran ini terdiri dari tiga rangkaian acara yaitu pameran karya arsitek era 50-60an, talkshow pada tanggal 21 Februari, dan pemutaran film mengenai arsitektur pada tanggal 21 Februari malam.

Sekilas mengenai Gedung Indonesia Menggugat merupakan gedung bersejarah yang dibangun tahun 1906. Fungsi awal bangunan ini dulu merupakan rumah tinggal. Sejak 1917, kemudian menjadi Gedung Pengadilan Belanda (Landraad). Peristiwa sejarah juga terjadi disini. Ir. Soekarno bersama rekan-rekan PNI diadili oleh pemerintah Belanda pada tanggal 18 Agustus hingga 22 Desember 1930. Beliau membacakan ‘pledoi’ atau pidato pembelaan yang termashur dengan judul ‘Indonesia Menggugat’, yang disusunnya di penjara Banceuy. Kini Gedung Indonesia Menggugat merupakan tempat yang dilestarikan sebagai museum sejarah dan terbuka untuk publik serta merupakan tempat yang tepat dipilih untuk pameran arsitektur yang bersejarah ini.

20150221_125557

Gedung Indonesia Menggugat saat acara Pameran Arsitektur, 21 Feb 2015

Rekam Jejak Arsitek Generasi Pertama dalam Pameran

Selama berada di pameran, kita akan menemukan dan melihat rekam profil dan karya dari para arsitek generasi pertama Indonesia. Arsitek-arsitek tersebut antara lain Soejoedi, F. Silaban, Ahmad Noe’man, Han Awal, Hoemar Tjokrodiatmo, Moerdjoko, Bianpoen, Mustafa Pamuntjak, Liem Bwan Tjie, dan Zaenudin Kartadiwiria. Sketsa-sketsa yang ditampilkan memiliki kesan yang berbeda dari pameran arsitektur lainnya dengan tanpa maket atau model. Informasi gambar memuat tanggal pembuatan, keterangan bangunan, dan memperlihatkan sketsa ciri khas arsitek tersebut. Dengan penampilan gambar-gambar yang hitam putih, kesan perjuangan dari tarikan garis-garis sketsa itulah yang terlihat dan menjadi daya tarik utama dari pameran ini.

20150221_134719

Salah satu panel pameran arsitektur generasi pertama, Hoemar

20150221_134745(0)

Suasana Pameran Arsitektur

20150221_130420

Suasana Pameran Arsitektur

Talkshow Arsitek Generasi Pertama Indonesia

Selain pameran profil dan karya yang terpampang di seluruh bagian gedung, terdapat pula acara bincang-bincang atau talkshow. Acara bincang-bincang tersebut diselenggarakan pada tanggal 21 Februari 2015. Topik yang dibawa adalah ‘Objektivitas dalam Subjektivitas’. Meskipun talkshow tersebut tidak menghadirkan para arsitek yang telah disebutkan pada pengumuman, acara tersebut semakin menarik dengan hadirnya Ahmad Noe’man. Acara bincang-bincang tersebut secara tidak langsung telah menghadirkan arsitek Indonesia dari lima generasi. Arsitek tersebut antara lain Ahmad Noe’man, Fauzan Noe’man, Yuswadi Saliya, Sandi Siregar, dan Budi Sukada sebagai moderator. Untuk isi pembicaraan talkshow lebih lanjut klik Talkshow.

20150221_140944

Suasana Talkshow Arsitek Generasi Pertama

20150221_172828

Pembicara Talkshow Arsitek Generasi Pertama

Setelah acara bincang-bincang dan tanya jawab yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut, acara di Gedung Indonesia Menggugat pada hari tersebut pun telah selesai. Sesi tanya jawab pun berlangsung cukup menarik dan didukung juga tanggapan-tanggapan dari arsitek dan akademisi kalangan arsitektur lainnya yang hadir dalam talkshow tersebut.

Selain itu, terdapat juga acara pemutaran film pada pukul 19.30 di hari yang sama dengan acara talkshow. Film yang diputar yaitu mengenai arsitektur Indonesia dalam kacamata para arsitek dari generasi pertama hingga generasi arsitek muda sebagai penerus saat ini. Salah satu arsitek generasi pertama yang bercerita pada film tersebut yaitu Han Awal. Selain menampilkan cerita dan pendapat dari para arsitek tersebut, karya-karya arsitektur yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan arsitektur di Indonesia turut ditampilkan misalnya ulasan mengenai Rumah Angin.

Kesimpulan yang dapat diambil dari serangkaian acara pameran arsitektur ‘Generasi Pertama Arsitek dalam Profil dan Karya’ ini diantaranya yaitu kita dapat melihat betapa sangat berpengaruhnya para arsitek generasi pertama ini dalam memajukan dan mengembangkan arsitektur di Indonesia. Selain itu, melihat juga bagaimana para arsitek tersebut menyikapi perkembangan zaman terhadap kondisi Indonesia saat itu. Berbagai karya yang kita lihat dan pelajari dari pameran tersebut tidak membuat kita turut melupakan bagaimana karya arsitektur secara filosofis menyiratkan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Catatan:

Liputan dan gambar didapat dari dokumentasi pribadi pada tanggal 21 Februari 2015.

Slamet Wirasonjaya dan PUSDAI

Every great architect is – necessarily – a great poet. He must be a great original interpreter of his time, his day, his age. (Frank Lloyd Wright)

Pada masa modernisme pasca kemerdekaan di Indonesia, Slamet Wirasonjaya merupakan arsitek dan dosen di ITB. Selain terlibat di ITB, beliau juga terlibat dalam perencanaan Monumen Nasional di Jakarta. Karya-karyanya cenderung berbentuk dinamis, ekspresionis, dan sebagian besar merupakan bangunan publik seperti Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Pusat Da’wah Islam (PUSDAI), Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Monumen Yogya Kembali, dan lain-lain. Beliau juga pernah menerbitkan sebuah buku yang berjudul “SLW”.

Selain terkenal menjadi arsitek, beliau juga menggeluti arsitektur lansekap. Setelah kuliah di ITB mengambil jurusan Arsitektur, beliau melanjutkan kuliah Arsitektur Lansekap di Harvard. Beliau merupakan orang Indonesia pertama yang mendapat gelar Magister Arsitektur Lansekap. Beberapa bulan setelah lulus, beliau membuat karya pertamanya sebagai arsitek lansekap di Indonesia yaitu proyek Gedung Conefo atau Gedung MPR/DPR. Namanya cukup terkenal di kalangan arsitektur lansekap di Indonesia.

Arsitektur ruang publik menjadi fokus utama yang ingin diwujudkan oleh Slamet. Menurut beliau, ruang publik adalah sebuah tempat untuk orang berkumpul dan bersosialisasi. Prinsip kebersamaan menjadi salah satu penyebab suksesnya bangunan-bangunan rancangan seorang Slamet Wirasonjaya. Oleh karena itu, dalam merancang bangunan atau ruang publik, beliau pasti melibatkan orang-orang sekitar karena rancangan tersebut juga akan digunakan oleh orang-orang tersebut.

Sejarah PUSDAI

20150401_155856

Ide awal PUSDAI dibangun yaitu dalam rangka menyambut abad ke 15 tahun Hijriah, yaitu tahun 1400 Hijriah pada tahun 1977. Pada masa tersebut, kebangkitan islam cukup terasa sehingga perayaan menuju abad ke 15 ini cukup meriah dengan merayakan kegiatan-kegiatan yang islami dan seperti halnya merayakan pesta menuju abad milenium. Kalangan ulama sendiri melakukan diskusi untuk membuat sesuatu yang berkaitan dengan Islamic Center. Usulan ide ini disampaikan kepada gubernur pada saat itu. Kemudian, gubernur pun menyutujuinya. Hal ini juga bernilai nasionalisme karena sebagai simbolisasi dalam mengingat para pejuang kemerdekaan tahun 1945.

Pada tahun 1982, Surat Keputusan mengenai pembebasan Islamic Center ini baru disetujui dan ditetapkan bersamaan dengan Surat Keputusan untuk Monumen Perjuangan Rakyat yang sesuai dengan keinginan pemerintah. Setelah 10 tahun kemudian, dan telah melalui tiga masa gubernur, pada tahun 1992 perencanaan PUSDAI ini mulai dibangun. Perancang dari PUSDAI ini yaitu Slamet Wirasonjaya, yang saat itu merupakan dosen Arsitektur ITB. Pembangunan berlangsung selama 5 tahun. Peresmian selesainya pembangunan yaitu tanggal 2 Desember 1997.

Konsep awal rencana bangunan PUSDAI yaitu mengambil dari pemukiman Sunda. Area yang terbuka yang terletak di tengah tapak dianalogikan sebagai kolam. Selain itu, bangunan ditinggikan seperti konsep rumah panggung. Bentuk atap yaitu tropis khas Sunda sesuai dengan keadaan lokasi. Interiornya pun menggunakan ukiran dan hiasan khas alam Sunda pada bagian dinding dan beberapa furnitur seperti hanjuang, patra komala, dan lain-lain. Ciri khas komponen lain yang diterapkan yaitu banyaknya unsur lengkung seperti konsep Islam Timur Tengah yang sekaligus diperkirakan sebagai bagian dari struktur bangunan berupa balok. Struktur utama bangunan menggunakan material beton, sedangkan struktur untuk rangka atap menggunakan baja.

Catatan Referensi:

Tulisan ini dibuat dalam rangka melengkapi makalah mata kuliah Seminar Arsitektur. Selain itu, masih banyak kekurangan dan masih dalam tahap perbaikan. Sumber tulisan diambil dari berbagai macam tulisan lain mengenai Slamet Wirasonjaya, buku mengenai Arsitektur di Indonesia. Selain itu, sejarah PUSDAI didapat dari hasil wawancara dengan Pak Taufiq Rahman yang saat ini menjadi Kepala IT di PUSDAI.