architecture#1 Gambar: Teknik Komunikasi dan Presentasi Arsitektur

Materi ini menjadi yang paling sangat dasar yang harus diketahui oleh mahasiswa arsitektur. Pokoknya kalau ga tau materi ini, bukan anak arsi banget deh. Tau kan kalau arsitek kerjaanya ngegambar? Ya berarti sebagai calon arsitek (aamiin) kita harus tau apa itu gambarnya dong. Nah, gambar inilah yang menjadi teknik bagaimana seorang arsitek berkomunikasi dan mempresentasikan ide atau gagasan mengenai bangunan yang dirancangnya kepada klien dan disiplin lain yang akan ikut bekerja bersama sang arsitek.

Baca lebih lanjut

Iklan

4 Tahun di ITB

Terlepas dari post-post sebelumnya, kali ini saya akan sangat ga formal dalam berbahasa. karena ga terasa.. ya dalam hati terbesit ga terasa, aku udah 4 tahun mengambil jenjang perguruan tinggi, kuliah, main, mencari jati diri, di arsitektur pula, semua ada di tahap ini. Yang baca post ini mungkin ga akan banyak juga, karena saya masih terbilang ga aktif sebagai blogger. Mungkin post ini bisa jadi awal cita-cita dari akhir mimpi yang akan terwujud. (ga ngerti kan? sama saya juga)

Baca lebih lanjut

Karya Arsitektur di Kampus ITB (4) – Perpustakaan Pusat

Perpustakaan Pusat (1983-1990)

20150524_141820

Perpustakaan Pusat dari sisi timur 

  • Sejarah

Pada tahun 1975, ITB berencana untuk membangun gedung perpustakaan yang dirancang sesuai dengan fungsi perpustakaan perguruan tinggi. Gedung perpustakaan mulai dirancang oleh seorang arsitek lulusan ITB, Slamet Wirasonjaya. Gedung seluas 9.000 m2 di bagian utara kampus ini selesai dibangun dan mulai ditempati sejak pertengahan tahun 1987. Sebelumnya perpustakaan ITB terletak di Aula Barat.

Pembangunan ini merupakan tahap pertama dari rencana bangunan perpustakaan yang jumlah totalnya mencapai luas 16.000 meter persegi. Tahap kedua pembangunan gedung perpustakaan baru akan dilaksanakan setelah gedung tahap pertama terisi penuh. Hal ini diperkirakan baru akan tercapai setelah gedung tahap pertama dioperasikan selama 25 tahun. Namun, setelah 28 tahun beroperasi, hingga saat ini belum diketahui lagi bagaimana lanjutan rencana pembangunan tahap kedua tersebut. Karena lahan yang diperkirakan akan menjadi rencana berikutnya yaitu yang berada di sisi timur perpustakaan telah dikembangkan menjadi bangunan Center for Advanced Studies (CAS) dan Center for Research and Community Services (CRCS) yang fungsinya berbasis riset dan pelayanan masyarakat.

  • Analisis desain

Gubahan bentuk bangunan ini merupakan kompromi antara bentuk dan konteks lokasi; hasil sintesis antara ekspresi bentuk yang menyimbolkan tumpukan buku dan letaknya yang berada di area tempat ‘persinggungan’ dengan sumbu imajiner kampus ITB. Plastisitas material beton memungkinkan terwujudnya ruang dan bentuk seperti yang diharapkan.” – SLW, Dhian Damajani (2006:37).

Bentuk gedung perpustakaan sangat unik dan menunjukkan ciri khas arsiteknya, Slamet Wirasonjaya berupa bentuk lengkung dan inovasi bangunan. Dengan pendekatan analogi, menurut Beliau, bentuk bangunan ini terlihat seperti tumpukan buku pada rak. Bentuk yang berundak-undak seperti tumpukan buku ini dapat terlihat dari sisi utara dan selatan bangunan. Selain itu, ciri khas bentuk-bentuk lengkung diterapkan secara berulang pada bagian bentukan buku dan terdapat pada bagian pintu utama di sisi barat bangunan. Bentuk lengkung pada sisi pintu utama menggunakan bahan fiberglass.

20150524_142100

Area masuk di bagian depan Gedung Perpustakaan terlihat bangunan yang berundak dan lengkungan-lengkungan bagian gerbang

Penggunaan material beton menjadi ciri khas gaya arsitektur yang sedang tren pada saat pembangunan Gedung Perpustakaan. Selain itu, material beton ini juga merupakan material yang dapat menyesuaikan dengan bentuk dan keinginan perancang yang melengkung serta bersifat plastis. Material beton ini murni digunakan pada bagian eksterior bangunan berupa fasade dan dinding luar serta struktur utama berupa beton bertulang. Kejujuran material dan struktur ini merupakan salah satu ciri khas dari perancang.

Penerapan sistem ketropisan pada bangunan tentunya tidak dilupakan oleh perancang. Dengan bentuk pendekatan analogi, bangunan juga harus menyesuaikan dengan iklim tropis dan pencahayaan. Bentuk bangunan memanjang secara utara dan selatan. Untuk bagian sisi yang terkena langsung sinar matahari di barat dan timur, bangunan diselesaikan dengan minimnya bukaan seperti pintu dan jendela. Bukaan ini justru diperbanyak pada bagian utara dan selatan yang merupakan sisi terpendek pada bangunan.

Selain inovasi bentuk bangunan, Perpustakaan ITB ini juga berinovasi di bidang teknologi dalam sistem penghawaan bangunan. Bangunan perpustakaan ini merupakan gedung pertama yang menggunakan AC sentral di ITB.

  • Faktor keterkaitan desain

Pada awal perencanaan, perancang ingin menggunakan material metal pada fasade. Namun, diperkirakan terdapat faktor internal yang mempengaruhi proses pengembangan rancangan. Akibatnya, permukaan gedung perpustakaan hanya berupa material beton yang berlapis cat berwarna putih. Setelah bangunan mulai beroperasi, tampak luar bangunan semakin hari semakin terlihat kusam dan berlumut. Hal ini tentunya diakibatkan karena bangunan bermaterial beton yang langsung terpapar sinar matahari dan hujan secara langsung.

tumblr_llv81jXjF61qze1fv

Seluruh bagian luar gedung Perpustakaan Pusat “telanjang” dengan material beton

Pada proses perawatan dan pemeliharaan, rencana fasade bangunan berubah ekspresi lagi yang diperkirakan adanya faktor tren gaya bangunan. Penggunaan keramik pada bagian eksterior bangunan sedang menjadi tren pada bangunan-bangunan lain di sekitarnya seperti pertokoan dan bangunan publik. Karena tidak ingin ketinggalan zaman, perubahan rencana fasade pun terjadi dengan dilapisi keramik berwarna biru pada seluruh bagian eksterior bangunan. Perubahan ini mengundang persepsi negatif terhadap warga kampus ITB saat itu sehingga gedung ini biasa disebut sebagai “WC Raksasa”.

1261473666

Gedung Perpustakaan Pusat diselimuti material keramik berwarna biru yang sedang tren pada masanya

Fenomena persepsi tersebut tentunya dapat mempengaruhi kinerja sistem perpustakaan di dalamnya. Tidak banyak mahasiswa yang mengunjungi dan betah berdiam pada saat itu. Akibatnya perlu diadakan perubahan lagi terhadap rencana fasade bangunan perpustakaan. Akhirnya, pada tahun 2009 keramik-keramik yang menempel tersebut mulai dirombak dan diganti menjadi berbahan panel komposit yang berwarna silver metal. Hal ini mungkin dipengaruhi karena ingin menyesuaikan dengan rencana awal si perancang.

IMG_3511

Panel metal yang hingga saat ini masih menjadi bagian modern dari bangunan Perpustakaan Pusat

  • Kajian konteks

Dengan berbagai kondisi yang turut mempengaruhi kinerja dan kualitas perpustakaan, begitu banyak tantangan yang harus dihadapi oleh UPT Perpustakaan ITB. Salah satu masalah utama adalah membangun koleksi yang selalu selaras dengan perkembangan dunia ilmu pengetahuan mutakhir yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi. Hal ini begitu sulit diwujudkan mengingat diperlukan dukungan dana yang memadai. Namun, upaya lain tetap dapat ditempuh dan ditingkatkan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas perpustakaan, termasuk membangun fasilitas untuk koleksinya serta dengan membina dan mengembangkan jejaring (kerjasama) dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun di luar negeri. Diharapkan dengan jejaring yang kuat, UPT Perpustakaan ITB dapat mendukung visi dan misi Institut Teknologi Bandung sebagai institusi pendidikan, yang bukan hanya bermanfaat bagi sivitas akademika ITB semata tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat luas.

Demikian beberapa serial karya arsitektur bangunan-bangunan di Kampus ITB. Masih banyak bangunan di Kampus ITB lainnya yang menarik yang dapat dianalisis dari segi desain atau perancangannya. Semoga dapat menambah pengetahuan pembaca mengenai bangunan di Kampus ITB yang tidak hanya terkenal berupa sebutan tetapi dari sisi arsitekturnya juga yang menarik.

Sumber Referensi

  1. Institut Teknologi Bandung, Undergraduate Student Handbook. Bandung: Penerbit ITB.
  2. 2014. Institut Teknologi Bandung, Knowledge Center, UPT Perpustakaan ITB. Bandung: Penerbit ITB.

Damajani, Dhian. 2006. SLW. Bandung: Program Studi Arsitektur ITB.

Rahaju BUK., S. 1996. Pembangunan Kampus ITB 1989-1996: Mewujudkan Impian dan Cita-Cita. Bandung: Penerbit ITB.

http://arsitekturbicara.wordpress.com (24/05/2015)

http://arun1st.wordpress.com (24/05/2015)

http://ditbang.itb.ac.id (24/05/2015)

http://id.geoview.info (24/05/2015)

http://if99.net (25/05/2015)

http://kurniawangunadi.tumblr.com (24/05/2015)

http://lib.itb.ac.id/tentang-perpustakaan (24/05/2015)

http://unalux.wordpress.com (24/05/2015)

Karya Arsitektur di Kampus ITB (3) – Labtek IV

Labtek IV (Teknik Geologi dan Teknik Pertambangan) (1973-1978)

labtek41

Labtek IV tampak sisi barat

  • Sejarah

Pada periode ini pembangunan masih tetap diprioritaskan bagi gedung-gedung yang melayani kepentingan umum, terutama yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran. Fasilitas yang dibangun dalam periode ini, salah satunya adalah Labtek IV yang digunakan oleh beberapa departemen di FIKTM atau yang saat ini terbagi dua menjadi FITB dan FTTM. Bangunan tersebut terdiri dari Pusat Pendidikan di Photogrammetric, Kartografi Jurusan Teknik Geodesi, dan Surya Laboratorium di Departemen Mekanika.

Seorang Dosen Geologi ITB menyimpan sebuah foto ITB tempo dulu mengenai Labtek IV yang baru selesai dibangun. Gedung ini digunakan untuk program studi Teknik Geologi dan Teknik Pertambangan ITB. Pada gambar di bawah ini, terdapat kerbau yang sedang digembalakan. Fenomena ini kemungkinan terjadi karena pada bagian utara kampus ITB belum banyak bangunan seperti saat ini. Bentuk bangunan Labtek IV pada awalnya hanya berupa seperti pada gambar di bawah ini.

gedung-geologi-itb

Labtek IV tempo dulu awal selesai pembangunan dan adanya kerbau-kerbau

  • Analisis desain

Pada bagian sisi barat bangunan yang terlihat pada gambar tempo dulu sebelumnya, pola kotak-kotak muncul kembali dan diterapkan pada bangunan Labtek IV. Komposisi bukaan pada sisi tersebut sangat menarik dengan dinding kerawang dan bentuk railing yang tidak biasa. Bukaan pada sisi memanjang dimaksimalkan dengan memperbanyak jendela kaca dan dekorasi tambahan berupa garis-garis vertikal. Sedangkan pada sisi selatan terdapat skylight yang digunakan sepanjang sisi atap bangunan sehingga bentuk bangunan berimplikasi pada sisi barat yang dapat dilihat terdapat segitiga tambahan di atasnya.

20150524_141238

Tampak memanjang di sisi utara Labtek IV didominasi bukaan berupa kaca jendela dan secondary skin serta pola garis-garis vertikal antar jendela

Bangunan yang terdiri dari tiga lantai ini bertahan lama hingga sekarang. Bahkan bangunan ini bentuknya diperpanjang ke arah barat beberapa tahun setelahnya. Berdasarkan pengamatan, keseluruhan proses penambahan membuat panjang bangunan di sisi utara mencapai sekitar 100 meter. Bangunan ditambah memanjang dari arah barat ke timur kemudian dilanjutkan ke arah selatan.

Material yang digunakan pada atap bangunan tambahan menggunakan bahan beton dan bentuk atap datar. Struktur bangunan menggunakan beton bertulang dan confined masonry. Material dinding menggunakan batu bata. Penambahan lapisan keramik berwarna merah menjadi ciri khas utama dari bangunan ini yang dipasang menerus dari bawah hingga atap. Bagian bangunan yang berlapis keramik ini diperkirakan berfungsi untuk sarana utilitas bangunan. Di samping itu, bagian tersebut juga berkesan seperti membelah bangunan menjadi beberapa bagian. Muka bangunan lama dan bangunan tambahan cukup berbeda pada sisi utara. Namun, muka bangunan tambahan tidak kalah menarik dibanding dengan muka bangunan lama.

labtek42

Terdapat dua bagian bangunan yang berlapis keramik warna merah di sisi utara

Penggunaan sistem sun shading juga diterapkan pada bangunan Labtek IV. Sistem transportasi vertikal sengaja diletakkan di bagian luar mengikuti bentuk awal rancangan tangga di sisi barat dan timur. Selain itu dapat dilihat juga penggunaan sistem secondary skin pada bagian sisi bukaan jendela. Bentuk yang berundak-undak juga menjadi keunikan dari bangunan ini. Penggunaan warna merah juga menjadi aksen untuk sun shading bangunan yang berada di bagian paling atas bangunan.

labtek43

Bangunan tambahan di sebelah selatan dengan facade sistem sun shading dan secondary skin serta aksen warna merah pada bagian atas

labtek44

Komposisi tampak sisi timur yang sama dengan tampak sisi barat dan bentuk bangunan yang berundak-undak

  • Faktor keterkaitan desain

Penggunaan pola kotak-kotak pada muka sisi barat bangunan labtek IV mengingatkan kita pada pola kotak-kotak bangunan SBM. Dapat diperkirakan, pola tersebut dipengaruhi dengan bangunan SBM yang sudah ada sebelumnya dan berada tepat di seberang belahan lainnya. Selain itu, sistem sun shading yang diterapkan pada bangunan tambahan labtek IV juga diperkirakan menyesuaikan dengan sistem yang ada di Gedung SBM, tetapi dengan bentuk yang berbeda.

Material keramik berwarna merah juga diperkirakan akibat pengaruh tren bangunan yang ada pada saat itu. Berbeda halnya dengan keramik pada bangunan perpustakaan, keramik pada bangunan tambahan Labtek IV bertahan hingga saat ini dan menjadi kelebihan tersendiri untuk bagian muka bangunan. Penggunaan warna merah pada bagian atas bangunan juga sama halnya dengan bangunan Labtek I, Gedung PLN, Gedung TPB, TVST, dan Oktagon yang telah ada sebelumnya. Selain itu, penggunaan material setiap komponen bangunan Labtek IV terpengaruh dari kelima bangunan tersebut.

bersambung ke Karya Arsitektur di Kampus ITB (4)

Karya Arsitektur di Kampus ITB (2) – Gedung PLN

Gedung PLN (Laboratorium Teknik Elektro) (1968-1973)

pln1

Gedung PLN dari sisi utara

  • Sejarah

Pada periode ini, terjadi perubahan dalam sistem akademik di ITB. Dengan adanya perubahan ini, perlu dibangun fasilitas perkuliahan umum. Fasilitas tersebut yaitu Gedung TVST dan Oktagon yang dilengkapi dengan fasilitas TV sirkuit tertutup. Terdapat juga dua bangunan yang berbeda di depan kedua bangunan tersebut yang dikenal sebagai Gedung PLN dan Gedung TPB (Laboratorium Fisika Dasar). Bangunan lain yang dibangun dalam periode ini yaitu Labtek I, II, dan III.

Bangunan Gedung PLN dan Gedung TPB tersebut dirancang oleh Soedibjo Prodjoseputro. Beliau merupakan salah satu pendiri Ikatan Arsitek Indonesia. Beliau juga merupakan pendiri sebuah biro konsultan arsitek bernama Team-4. Bangunan yang terkenal disebut Gedung PLN merupakan hasil kerja sama PLN dan ITB untuk menyediakan fasilitas penelitian bagi mahasiswa Teknik Elektro.

  • Analisis desain

Gedung PLN terdiri dari dua lantai bangunan yang fungsi utamanya merupakan fasilitas laboratorium. Lantai 1 merupakan laboratorium untuk Penelitian Sistem Tenaga dan Distribusi serta lantai 2 merupakan laboratorium untuk Teknik Tegangan Tinggi dan Pengukuran Listrik. Bentuk bangunan dari gedung PLN ini memanjang dari timur ke barat. Terletak di bagian selatan dari Gedung TPB serta keduanya mempunyai ciri khas yang sama dari segi arsitektur bangunannya.

Perancang berusaha untuk beradaptasi dengan iklim tropis dan mengaplikasikan pada bangunannya dengan memanfaatkan pencahayaan alami dari sinar matahari. Sisi bangunan yang memanjang pada bagian utara dan selatan dimanfaatkan untuk memaksimalkan bukaan berupa jendela. Bidang jendela ini kemudian ditambahkan dengan sistem secondary skin untuk mengurangi intensitas cahaya sinar matahari yang berlebihan yang diletakkan pada bagian atas jendela. Pintu utama bangunan terletak di sisi barat dan menjorok ke dalam akibat menanggulangi sinar matahari dari barat. Selain sistem tersebut, juga terdapat kanopi untuk penyangga rangka secondary skin.

20150524_143504

Sistem secondary skin pada sisi utara bangunan bagian atas jendela dan atap kanopi untuk penyangga

Bentuk atap bagian atas terlihat datar diberi aksen tambahan berupa atap miring yang berfungsi sebagai tritisan. Penggunaan warna merah selain pada atap juga terdapat pada bagian bangunan tangga yang menempel di salah satu sisi bangunan. Warna ini memberi aksen yang berbeda pada visual bangunan. Seolah warna tersebut sangat mencolok dan menjadi ciri khas bentuk bangunan yang berbeda dari bangunan ITB lainnya.

20150524_143510

Aksen warna merah pada tangga dan atap

  • Faktor keterkaitan desain

Pada keempat bangunan yang telah dijelaskan sebelumnya termasuk Gedung PLN mempunyai keselarasan yang saling menyeimbangkan satu sama lain. Selain itu, jika dilihat dari segi materialnya, penggunaan atap yang diperkirakan menggunakan asbes fiber sedang menjadi tren saat itu. Bahkan material tersebut juga digunakan pada bangunan Labtek I yang tepat berada di sebelah timur Gedung PLN dan Gedung TPB. Kelima bangunan ini berkesan membentuk sebuah kawasan tersendiri dengan keselarasannya. Selain bagian atap, untuk secondary skin menggunakan alumunium yang diterpakan juga pada bangunan-bangunan tersebut.

bersambung ke Karya Arsitektur di Kampus ITB (3)

Karya Arsitektur di Kampus ITB – Gedung SBM

ITB yang terkenal merupakan salah satu bangunan kampus tertua di Indonesia terus mengalami perkembangan baik segi fisik maupun nonfisik. Perkembangan dalam segi fisik dapat dilihat dari proses perkembangan pembangunan akan kebutuhan fasilitas kegiatan di dalam kampus yang selaras dengan kemajuan pada zamannya. Dengan luas lahan yang terbatas, laju pembangunan di dalam kampus ITB dapat dibagi dalam beberapa periode tahun yang sesuai dengan ciri khasnya.

Pembangunan fasilitas tersebut tidak lepas dari aspek arsitektur. Karya arsitektur di dalam kampus ITB ini akan menjadi fokus utama tulisan. Periode waktu pembangunan yang akan dibahas yaitu dalam kurun tahun 1950-1990 atau tepatnya periode pasca kemerdekaan Indonesia. Pembangunan terdiri dari 5 tahap periode, yaitu 1950-an, 1968-1973, 1973-1978, 1978-1983, dan 1983-1990. Dalam hal ini, penulis akan membahas beberapa gedung yang dibangun pada masing-masing periode diantaranya yaitu Gedung SBM (1950-an), Gedung PLN (1973-1978), Labtek IV (1978-1983) dan Perpustakaan Pusat (1983-1990).

Gedung SBM (1950-an)

sbm1

Gedung SBM tampak sisi timur

  • Sejarah

Pada era ini, anggaran pembangunan fisik kampus diperoleh dari sejumlah dana dan material yang merupakan bagian rampasan perang. Fasilitas banyak dibangun untuk keperluan departemen beberapa program studi. Selain itu dibangun pula beberapa gedung lainnya yaitu Balai Pertemuan Ilmiah di Jalan Surapati dan Gedung Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman yang terletak di sisi utara kampus.

Gedung Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman dihibahkan dari kepemilikan PU ke ITB. Gedung ini dirancang oleh arsitek berkebangsaan Austria yaitu Natmeisnig dan Kopeignig yang saat itu bergabung dengan Biro Arsitek Sangkuriang (Rahaju BUK, 1996). Pada saat yang sama, arsitek tersebut juga merancang Gedung BPI. Pada tahun 2004, gedung yang beberapa kali mengalami perubahan fungsi tersebut direnovasi dan direvitalisasi untuk dijadikan tempat perkuliahan. Hal tersebut melibatkan desainer interior yang berperan besar dalam mengubah interior gedung tua menjadi gedung baru yang disesuaikan dengan fungsi belajar. Saat ini, gedung tersebut kita ketahui sebagai gedung Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM).

  • Analisis Desain

Pertama kali yang dapat dilihat oleh mata kita, visual dari bangunan ini yaitu pola kotak-kotak yang terdapat pada bagian sisi utara, timur, dan selatan. Kotak-kotak persegi menjadi ciri khas dan keunikan dari bangunan yang paling modern pada saat itu. Kotak-kotak tersebut merupakan komponen façade (tampak) bangunan yang menggunakan sistem sun shading. Sistem ini mengadaptasi lingkungan tropis dengan mempertimbangkan aspek pencahayaan dari sinar matahari. Komponen tersebut berfungsi untuk mengurangi masuknya intensitas sinar matahari melalui jendela dan pintu yang didominasi oleh material kaca pada bidang bangunan.

sbm2

Pola kotak-kotak pada tampak sisi selatan

Teknologi baru yang diterapkan pada Gedung SBM ini yaitu produksi massal prefabrication atau produksi yang dibuat di pabrik sebelumnya. Material komponen pola persegi menggunakan beton yang dicetak massal di pabrik karena kebutuhan yang jumlahnya berkisar lebih dari seratus buah. Penyelesaian pada bidang dinding dibuat dengan memanipulasi teknik pertukangan dalam penyelesaiannya sehingga memunculkan kesan rustic. Material kaca yang diletakkan sebidang dan lebar mencirikan adanya transparasi ruang luar dan ruang dalam.

sbm3

Komponen pola persegi dengan kedalaman kurang lebih 90 cm di tampak sisi barat Gedung SBM

  • Faktor keterkaitan desain

Gedung SBM pada awalnya dibangun pada saat yang sama dengan gedung BPI pada tahun 1950-an. Gedung BPI menerapkan gaya arsitektur cubism (internasionalism). Di Indonesia, gaya arsitektur ini dikenal dengan gaya Jengki yang berkembang pada tahun 1950-1960. Pada masa itu, beberapa arsitek Belanda dipulangkan ke negaranya dan terdapat juga beberapa arsitek Belanda dan kebangsaan lainnya yang masih menetap di Indonesia.

Karakter arsitektur modern yang dibawa yaitu berupa penerapan ide bangunan kotak dan geometris murni yang saat itu diterapkan secara internasional. Maraknya produksi massal juga mempengaruhi gubahan bentuk dan bahan bangunan yang diterapkan. Pada masa ini, produk arsitektur menjadi terlalu sederhana karena penekanan pada ruang, sehingga tidak ada bedanya karya arsitek dan bukan arsitek. Namun, di sisi lain arsitek juga ditantang dan berkesempatan untuk memanfaatkan masa tersebut dalam mengeksplorasi bentuk dengan menyesuaikan ilmu dan teknologi yang ada.

Sistem sun shading dengan pola komponen persegi terinspirasi dari salah satu karya arsitek terkenal pada era ini, Le Corbusier, bangunan unit perumahan yaitu Unité d’Habitation atau disebut juga Cité radieuse (Radiant City) di Mersailles dan Berlin. Gaya modernis pada bangunan Le Corbusier dibangun antara tahun 1947 dan 1952. Sistem ini juga merupakan salah satu prinsip yang sering digunakan oleh Le Corbusier.

118966

Salah satu tampak bangunan Unite de Habitation karya Le Corbusier

Pada era arsitektur modern, akibat pengaruh revolusi industri, karakter material yang kuat yang dapat dibuat secara massal yaitu beton, baja, dan kaca. Penggunaan material untuk bangunan yang dominan pada saat itu menggunakan beton. Material kaca juga dimanfaatkan untuk mengekspresikan ruang yang lebih terbuka. Kaca yang lebar diletakkan pada bidang-bidang sehingga bidang polos kaca itulah yang sangat dimunculkan dalam bangunan modern.

bersambung, lanjut ke Karya Arsitektur di Kampus ITB (2)

lecture#1 Notes: Point Karakter Soekarno

Arca ga begitu yakin ingin posting catatan kuliah ini, kesannya mungkin benar-benar hanya menyalin tulisan yang ada dan mendengar percakapan diskusi di kelas. Waktu post pun kurang tepat yah, ga ada spesialnya untuk tiba2 mengingat sesosok pahlawan nasional negara kita, Ir. Soekarno. Tetapi karena Arca geram ingin mengosongkan drafts, jadi Arca post aja yah. Semoga bisa menjadi pelajaran dan teladan yang selalu dapat dicontoh oleh kita sebagai warganya. Untuk gambar menyusul yah, yang pasti akan dibuat berbeda dan ga ada duanya kalau di-search di Google.

Keterlibatan Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sangat kuat dan diakui oleh seluruh bangsa. Banyak film dokumenter yang merekam segala kegiatan Soekarno dalam berjuang bersama rakyat Indonesia. Selain itu, Soekarno juga sangat memperhatikan seni dan arsitektur. Beliau adalah orang yang bersemangat, seorang arsitek, presiden yang mengamalkan dan menerapkan ilmu arsitektur dengan peran lainnya. Beliau telah membangun bangsa dengan arsitektur, bangunan, dan kota. Berikut ini karakter Soekarno yang dapat kita rasakan kembali kehadirannya saat merdeka.

  • karismatik, teguh
  • menentang hal yang berbau barat (imperialis dan kolonialis)
  • ingin pemuda berkarakter kuat dan jiwa revolusioner
  • nation building
  • kebanggaan berbangsa dan bernegara
  • mental dan karakter kebangsaan
  • berbagi mimpi tentang kejayaan Indonesia
  • bangkit dari keterpurukan
  • ikon dunia (1945-1965), pahlawan bangsa Asia-Afrika
  • bangsa yang merdeka, anti-kolonial, anti-imperialisme
  • kolektor dan patron seni rupa
  • dukungan finansial dan moral bagi seniman
  • menempatkan dan mempromosikan karya seni rupa
  • memiliki sense of aesthetic
  • punya ciri khas berpakaian: kemeja putih, pantalon, berdasi (fashionable)
  • kecintaan Soekarno: teraga (arsitektur dan seni rupa) dan tak teraga (wanita, batik, tari daerah)

Selain itu, beliau juga membawa gubahan-gubahan dan trend-trend dalam bidang seni dan arsitektur. Tidak hanya terkait seni, tetapi memperkenalkan arsitektur juga dalam berbangsa dan bernegara. Memberi suasana Indonesia dengan semangat yang melatari perkembangan bangsa dan karya seni. Semoga jasa, ilmu, serta perjuangan Beliau bisa terus diingat oleh warga-warganya agar menjadi pahal dan membawanya menuju surga yang diimpikan. aamiin.

-Catatan Kuliah pribadi, AR3232 Arsitektur Indonesia Pasca Kemerdekaan, 2015/01/28