lec-ture#1 Notes: Point Karakter Soekarno

Arca ga begitu yakin ingin posting catatan kuliah ini, kesannya mungkin benar-benar hanya menyalin tulisan yang ada dan mendengar percakapan diskusi di kelas. Waktu post pun kurang tepat yah, ga ada spesialnya untuk tiba2 mengingat sesosok pahlawan nasional negara kita, Ir. Soekarno. Tetapi karena Arca geram ingin mengosongkan drafts, jadi Arca post aja yah. Semoga bisa menjadi pelajaran dan teladan yang selalu dapat dicontoh oleh kita sebagai warganya. Untuk gambar menyusul yah, yang pasti akan dibuat berbeda dan ga ada duanya kalau di-search di Google.

Keterlibatan Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sangat kuat dan diakui oleh seluruh bangsa. Banyak film dokumenter yang merekam segala kegiatan Soekarno dalam berjuang bersama rakyat Indonesia. Selain itu, Soekarno juga sangat memperhatikan seni dan arsitektur. Beliau adalah orang yang bersemangat, seorang arsitek, presiden yang mengamalkan dan menerapkan ilmu arsitektur dengan peran lainnya. Beliau telah membangun bangsa dengan arsitektur, bangunan, dan kota. Berikut ini karakter Soekarno yang dapat kita rasakan kembali kehadirannya saat merdeka.

  • karismatik, teguh
  • menentang hal yang berbau barat (imperialis dan kolonialis)
  • ingin pemuda berkarakter kuat dan jiwa revolusioner
  • nation building
  • kebanggaan berbangsa dan bernegara
  • mental dan karakter kebangsaan
  • berbagi mimpi tentang kejayaan Indonesia
  • bangkit dari keterpurukan
  • ikon dunia (1945-1965), pahlawan bangsa Asia-Afrika
  • bangsa yang merdeka, anti-kolonial, anti-imperialisme
  • kolektor dan patron seni rupa
  • dukungan finansial dan moral bagi seniman
  • menempatkan dan mempromosikan karya seni rupa
  • memiliki sense of aesthetic
  • punya ciri khas berpakaian: kemeja putih, pantalon, berdasi (fashionable)
  • kecintaan Soekarno: teraga (arsitektur dan seni rupa) dan tak teraga (wanita, batik, tari daerah)

Selain itu, beliau juga membawa gubahan-gubahan dan trend-trend dalam bidang seni dan arsitektur. Tidak hanya terkait seni, tetapi memperkenalkan arsitektur juga dalam berbangsa dan bernegara. Memberi suasana Indonesia dengan semangat yang melatari perkembangan bangsa dan karya seni. Semoga jasa, ilmu, serta perjuangan Beliau bisa terus diingat oleh warga-warganya agar menjadi pahal dan membawanya menuju surga yang diimpikan. aamiin.

-Catatan Kuliah pribadi, AR3232 Arsitektur Indonesia Pasca Kemerdekaan, 2015/01/28

Iklan

Liputan Talkshow: Arsitek Generasi Pertama Indonesia

Sebelumnya telah dijelaskan mengenai pameran arsitektur dalam profil dan karya yang bertempat di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung. Berikut ini akan dipaparkan lebih lanjut mengenai isi talkshow yang diselenggarakan pada tanggal 21 Februari 2015. Topik yang dibawa adalah ‘Objektivitas dalam Subjektivitas’. Meskipun talkshow tersebut tidak menghadirkan para arsitek yang telah disebutkan pada pengumuman, acara semakin menarik dengan hadirnya Ahmad Noe’man. Secara tidak langsung, acara ini telah menghadirkan arsitek Indonesia dari lima generasi. Arsitek tersebut antara lain Ahmad Noe’man, Fauzan Noe’man, Yuswadi Saliya, Sandi Siregar, dan Budi Sukada sebagai moderator.

20150221_172828

Pembicara Talkshow Arsitek Generasi Pertama Indonesia (dari kiri ke kanan: Budi Sukada, Sandi Siregar, Yuswadi Saliya, Ahmad Noe’man, Fauzan Noe’man)

Ahmad Noe’man

Awal bincang-bincang dimulai dari menceritakan perjalanan karir Ahmad Noe’man oleh anaknya Fauzan Noe’man. Ahmad Noe’man masuk kuliah di ITB pada tahun 1948. Saat itu, jurusan arsitektur belum ada. Kemudian, beliau masuk ke jurusan sipil karena mata kuliah arsitektur bagian dari pendidikan insinyur sipil. Barulah pada Oktober tahun 1950, ITB membuka jurusan arsitektur. Ahmad Noe’man pun langsung pindah karena beliau sangat minat dan menggemari ilmu membangun terutama arsitektur.

Saat kuliah di ITB, Ahmad Noe’man diajar oleh satu dosen utama bernama Van Romondt. Menurut beliau, dosen berkebangsaan Belanda tersebut berpikir lebih maju dan berbeda dari zamannya serta beliau merasa beruntung mempunyai dosen seperti Van Romondt. Dosen tersebut juga mengingatkan bahwa desain yang baik adalah desain yang melihat keterbatasan teknologi dan sesuai dengan lingkungan saat itu, serta mengingatkan akan kreativitas dalam berkarya.

Setelah lulus dari ITB, proyek pertama Ahmad Noe’man yaitu merenovasi masjid yang merupakan wakaf dari ayahnya di Garut. Saat beliau masih kecil, ayahnya membuat masjid di Riau dengan relung dari besi. Berbagai kesulitan pada saat pembangunan tersebut pun terjadi. Dengan melihat hal itu, beliau pun belajar dari pengalaman tersebut. Kemudian, dengan pemikiran beliau yang cukup berbeda, beliau sudah mulai membuat rancangan yang lebih modern dengan ide tanpa kolomnya.

Salah satu karya terbesar dan agung yang menjadi pelopor dari Ahmad Noe’man adalah Masjid Salman. Masjid yang berdiri sekitar tahun 1960 memiliki konsep yang berbeda dengan masjid lainnya. Salman telah membangun masjid kampus pertama di Indonesia pada saat itu. Bagi beliau proyek ini merupakan kemudahan karena beliau sendiri selain merancang juga merupakan pemilik proyek sehingga lebih mengetahui bentuk ideal yang ingin dimunculkan pada karyanya.

20150221_133436

Panel Pameran karya Ahmad Noe’man: Masjid Salman ITB

Konsep perancangan terinspirasi dari kitab suci yaitu Al-Quran surat Al-Baqarah ayat ke 170, yang intinya apabila Allah menurunkan sesuatu yang baru, manusia tidak langsung mengambilnya, tetapi manusia cenderung ikut ajaran nenek moyangnya. Kemudian, beliau juga menganut kepercayaan bahwa ketika beribadah shalat di masjid agar tidak terputus shaf atau barisannya. Acuan-acuan tersebut diinterpretasikan ke dalam desain yaitu konsep bangunan yang ekstrim tanpa kolom di tengah ruang. Selain itu, dengan desain yang modern tersebut muncul pula pemikiran untuk tidak membuat kubah pada masjid. Menurut beliau, tidak ada ketentuan yang disebutkan bahwa sebuah masjid harus mempunyai kubah.

Ahmad Noe’man ini adalah orang yang sangat unik. Meskipun tidak berkesempatan melanjutkan sekolah ke luar negeri, seperti para arsitek lainnya, pendidikan yang didapat oleh beliau lebih banyak dari pengalaman. Beliau termasuk salah satu dari 18 arsitek muda pendiri IAI dan punya visi yang sama yaitu ‘Menuju Dunia Arsitektur Indonesia yang Sehat’. Dengan begitu, beliau juga merupakan arsitek generasi pertama dengan pemikirannya yang merdeka dan memelopori sebuah mahakarya yang menjadi inspirasi bagi generasi penerus.

Fauzan Noe’man

Setelah lulus SMA, ayahnya memberi kesempatan pada Fauzan Noe’man untuk melanjutkan sekolah di Amerika dengan mengambil pendidikan arsitektur selama empat tahun dan satu tahun untuk keprofesian. Kemudian, lulus pendidikan arsitektur pada tahun 1987. Mengingat usia ayahnya sudah menginjak 61 tahun, beliau pulang ke Indonesia dan melanjutkan profesi di Indonesia. Beliau juga magang di biro arsitek ayahnya selama tiga tahun.

Proyek pertama yang dilibatkan pada saat magang di biro Ahmad Noe’man yaitu rumah. Dari proyek kecil ini saja, Fauzan merasa ilmu yang didapatnya dari belajar di negara empat musim berbeda dengan tempat tinggal aslinya di negara dua musim. Sangat banyak hal yang diajarkan oleh ayahnya dengan tegas mengenai detail seperti tritisan, talang, konsep ruang dan sebagainya yang tidak diajarkan sebelumnya di Amerika. Ayahnya juga mengajarkan bahwa setiap garis adalah biaya.

Sebagai anak dari seorang arsitek generasi pertama, Fauzan Noe’man sendiri merasa heran dengan karir ayahnya di awal berarsitektur. Sang ayah sudah menghasilkan sebuah mahakarya yang modern dan sesuai zaman serta melihat kondisi iklim. Beliau juga beranggapan bahwa biasanya arsitek-arsitek hebat lainnya membuat sebuah mahakarya saat di akhir atau di tengah perjalanan karirnya. Sedangkan Ahmad Noe’man sejak awal berkarir sudah memiliki pemikiran yang berbeda tersebut. Hal yang tidak diherankan adalah beliau pasti sangat bangga mempunyai ayah seorang Ahmad Noe’man, salah satu arsitek generasi pertama di Indonesia.

Yuswadi Saliya

Pada tahun 1958 atau akhir tahun 1960 merupakan puncaknya modernisme, revolusi industri, dan modularitas terutama di daerah Eropa. Pada zaman itu pula, di Indonesia, arsitek baru muncul seperti Soejoedi dan Han Awal membawa pemikiran yang sangat baru. Arsitek-arsitek tersebut dan arsitek lainnya yang berkesempatan belajar di luar negeri terutama di daerah Eropa membawa angin modernisme itu ke Indonesia.

Di belahan negara lainnya, pada era yang sama, Oscar Niemeyer, arsitek Brazil sedang naik daun dan menjadi idola. Van Romondt yang pada saat itu merupakan dosen arsitek di ITB merupakan orang yang sangat rasional. Menurut pengajar dari Belanda tersebut, karya-karya di Brazil yang tipe kondisi iklimnya sama dengan Indonesia, memang luar biasa, tetapi terkesan hanya main-main saja.

Ahmad Noe’man merupakan pelopor tahun 1960-an dengan membangun masjid tanpa kubah. Beliau merupakan orang yang pemikirannya sangat terbuka, merdeka, dan mengandalkan sensitivitas. Menurut beliau, sensitivitas itu terbentuknya lama. Beliau beranggapan bahwa arsitek zaman dulu pemikirannya bersumber dari perasaan yang terdalam. Inspirasi bukan hanya dari referensi atau bahkan internet, tetapi lebih mencari penggabungan dari banyak variabel yang dapat menciptakan sesuatu yang lebih baru.

Sandi Siregar

Sandi A. Siregar merupakan akademisi yang juga berpraktik dari Unpar angkatan 1964. Pengalaman yang menarik diceritakan oleh beliau yaitu pernah kerja praktik dalam proyek-proyek Soejoedi. Selain itu, sebagai penutup pembicaran, beliau juga mengambil beberapa kesimpulan yaitu adanya semangat out of the box yang positif yang dibawa oleh Ahmad Noe’man dan bagaimana landasan pemikiran yang rasional dibandingkan dengan perasaan intuitif dalam merancang sebuah proyek bangunan.

Demikian, isi perbincangan yang diliput langsung dari acara talkshow Arsitek Generasi Pertama Indonesia. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan informasi atau perbedaan persepsi dalam tulisan ini.