4 Tahun di ITB

Terlepas dari post-post sebelumnya, kali ini saya akan sangat ga formal dalam berbahasa. karena ga terasa.. ya dalam hati terbesit ga terasa, aku udah 4 tahun mengambil jenjang perguruan tinggi, kuliah, main, mencari jati diri, di arsitektur pula, semua ada di tahap ini. Yang baca post ini mungkin ga akan banyak juga, karena saya masih terbilang ga aktif sebagai blogger. Mungkin post ini bisa jadi awal cita-cita dari akhir mimpi yang akan terwujud. (ga ngerti kan? sama saya juga)

Baca lebih lanjut

Karya Arsitektur di Kampus ITB (2) – Gedung PLN

Gedung PLN (Laboratorium Teknik Elektro) (1968-1973)

pln1

Gedung PLN dari sisi utara

  • Sejarah

Pada periode ini, terjadi perubahan dalam sistem akademik di ITB. Dengan adanya perubahan ini, perlu dibangun fasilitas perkuliahan umum. Fasilitas tersebut yaitu Gedung TVST dan Oktagon yang dilengkapi dengan fasilitas TV sirkuit tertutup. Terdapat juga dua bangunan yang berbeda di depan kedua bangunan tersebut yang dikenal sebagai Gedung PLN dan Gedung TPB (Laboratorium Fisika Dasar). Bangunan lain yang dibangun dalam periode ini yaitu Labtek I, II, dan III.

Bangunan Gedung PLN dan Gedung TPB tersebut dirancang oleh Soedibjo Prodjoseputro. Beliau merupakan salah satu pendiri Ikatan Arsitek Indonesia. Beliau juga merupakan pendiri sebuah biro konsultan arsitek bernama Team-4. Bangunan yang terkenal disebut Gedung PLN merupakan hasil kerja sama PLN dan ITB untuk menyediakan fasilitas penelitian bagi mahasiswa Teknik Elektro.

  • Analisis desain

Gedung PLN terdiri dari dua lantai bangunan yang fungsi utamanya merupakan fasilitas laboratorium. Lantai 1 merupakan laboratorium untuk Penelitian Sistem Tenaga dan Distribusi serta lantai 2 merupakan laboratorium untuk Teknik Tegangan Tinggi dan Pengukuran Listrik. Bentuk bangunan dari gedung PLN ini memanjang dari timur ke barat. Terletak di bagian selatan dari Gedung TPB serta keduanya mempunyai ciri khas yang sama dari segi arsitektur bangunannya.

Perancang berusaha untuk beradaptasi dengan iklim tropis dan mengaplikasikan pada bangunannya dengan memanfaatkan pencahayaan alami dari sinar matahari. Sisi bangunan yang memanjang pada bagian utara dan selatan dimanfaatkan untuk memaksimalkan bukaan berupa jendela. Bidang jendela ini kemudian ditambahkan dengan sistem secondary skin untuk mengurangi intensitas cahaya sinar matahari yang berlebihan yang diletakkan pada bagian atas jendela. Pintu utama bangunan terletak di sisi barat dan menjorok ke dalam akibat menanggulangi sinar matahari dari barat. Selain sistem tersebut, juga terdapat kanopi untuk penyangga rangka secondary skin.

20150524_143504

Sistem secondary skin pada sisi utara bangunan bagian atas jendela dan atap kanopi untuk penyangga

Bentuk atap bagian atas terlihat datar diberi aksen tambahan berupa atap miring yang berfungsi sebagai tritisan. Penggunaan warna merah selain pada atap juga terdapat pada bagian bangunan tangga yang menempel di salah satu sisi bangunan. Warna ini memberi aksen yang berbeda pada visual bangunan. Seolah warna tersebut sangat mencolok dan menjadi ciri khas bentuk bangunan yang berbeda dari bangunan ITB lainnya.

20150524_143510

Aksen warna merah pada tangga dan atap

  • Faktor keterkaitan desain

Pada keempat bangunan yang telah dijelaskan sebelumnya termasuk Gedung PLN mempunyai keselarasan yang saling menyeimbangkan satu sama lain. Selain itu, jika dilihat dari segi materialnya, penggunaan atap yang diperkirakan menggunakan asbes fiber sedang menjadi tren saat itu. Bahkan material tersebut juga digunakan pada bangunan Labtek I yang tepat berada di sebelah timur Gedung PLN dan Gedung TPB. Kelima bangunan ini berkesan membentuk sebuah kawasan tersendiri dengan keselarasannya. Selain bagian atap, untuk secondary skin menggunakan alumunium yang diterpakan juga pada bangunan-bangunan tersebut.

bersambung ke Karya Arsitektur di Kampus ITB (3)

Karya Arsitektur di Kampus ITB – Gedung SBM

ITB yang terkenal merupakan salah satu bangunan kampus tertua di Indonesia terus mengalami perkembangan baik segi fisik maupun nonfisik. Perkembangan dalam segi fisik dapat dilihat dari proses perkembangan pembangunan akan kebutuhan fasilitas kegiatan di dalam kampus yang selaras dengan kemajuan pada zamannya. Dengan luas lahan yang terbatas, laju pembangunan di dalam kampus ITB dapat dibagi dalam beberapa periode tahun yang sesuai dengan ciri khasnya.

Pembangunan fasilitas tersebut tidak lepas dari aspek arsitektur. Karya arsitektur di dalam kampus ITB ini akan menjadi fokus utama tulisan. Periode waktu pembangunan yang akan dibahas yaitu dalam kurun tahun 1950-1990 atau tepatnya periode pasca kemerdekaan Indonesia. Pembangunan terdiri dari 5 tahap periode, yaitu 1950-an, 1968-1973, 1973-1978, 1978-1983, dan 1983-1990. Dalam hal ini, penulis akan membahas beberapa gedung yang dibangun pada masing-masing periode diantaranya yaitu Gedung SBM (1950-an), Gedung PLN (1973-1978), Labtek IV (1978-1983) dan Perpustakaan Pusat (1983-1990).

Gedung SBM (1950-an)

sbm1

Gedung SBM tampak sisi timur

  • Sejarah

Pada era ini, anggaran pembangunan fisik kampus diperoleh dari sejumlah dana dan material yang merupakan bagian rampasan perang. Fasilitas banyak dibangun untuk keperluan departemen beberapa program studi. Selain itu dibangun pula beberapa gedung lainnya yaitu Balai Pertemuan Ilmiah di Jalan Surapati dan Gedung Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman yang terletak di sisi utara kampus.

Gedung Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman dihibahkan dari kepemilikan PU ke ITB. Gedung ini dirancang oleh arsitek berkebangsaan Austria yaitu Natmeisnig dan Kopeignig yang saat itu bergabung dengan Biro Arsitek Sangkuriang (Rahaju BUK, 1996). Pada saat yang sama, arsitek tersebut juga merancang Gedung BPI. Pada tahun 2004, gedung yang beberapa kali mengalami perubahan fungsi tersebut direnovasi dan direvitalisasi untuk dijadikan tempat perkuliahan. Hal tersebut melibatkan desainer interior yang berperan besar dalam mengubah interior gedung tua menjadi gedung baru yang disesuaikan dengan fungsi belajar. Saat ini, gedung tersebut kita ketahui sebagai gedung Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM).

  • Analisis Desain

Pertama kali yang dapat dilihat oleh mata kita, visual dari bangunan ini yaitu pola kotak-kotak yang terdapat pada bagian sisi utara, timur, dan selatan. Kotak-kotak persegi menjadi ciri khas dan keunikan dari bangunan yang paling modern pada saat itu. Kotak-kotak tersebut merupakan komponen façade (tampak) bangunan yang menggunakan sistem sun shading. Sistem ini mengadaptasi lingkungan tropis dengan mempertimbangkan aspek pencahayaan dari sinar matahari. Komponen tersebut berfungsi untuk mengurangi masuknya intensitas sinar matahari melalui jendela dan pintu yang didominasi oleh material kaca pada bidang bangunan.

sbm2

Pola kotak-kotak pada tampak sisi selatan

Teknologi baru yang diterapkan pada Gedung SBM ini yaitu produksi massal prefabrication atau produksi yang dibuat di pabrik sebelumnya. Material komponen pola persegi menggunakan beton yang dicetak massal di pabrik karena kebutuhan yang jumlahnya berkisar lebih dari seratus buah. Penyelesaian pada bidang dinding dibuat dengan memanipulasi teknik pertukangan dalam penyelesaiannya sehingga memunculkan kesan rustic. Material kaca yang diletakkan sebidang dan lebar mencirikan adanya transparasi ruang luar dan ruang dalam.

sbm3

Komponen pola persegi dengan kedalaman kurang lebih 90 cm di tampak sisi barat Gedung SBM

  • Faktor keterkaitan desain

Gedung SBM pada awalnya dibangun pada saat yang sama dengan gedung BPI pada tahun 1950-an. Gedung BPI menerapkan gaya arsitektur cubism (internasionalism). Di Indonesia, gaya arsitektur ini dikenal dengan gaya Jengki yang berkembang pada tahun 1950-1960. Pada masa itu, beberapa arsitek Belanda dipulangkan ke negaranya dan terdapat juga beberapa arsitek Belanda dan kebangsaan lainnya yang masih menetap di Indonesia.

Karakter arsitektur modern yang dibawa yaitu berupa penerapan ide bangunan kotak dan geometris murni yang saat itu diterapkan secara internasional. Maraknya produksi massal juga mempengaruhi gubahan bentuk dan bahan bangunan yang diterapkan. Pada masa ini, produk arsitektur menjadi terlalu sederhana karena penekanan pada ruang, sehingga tidak ada bedanya karya arsitek dan bukan arsitek. Namun, di sisi lain arsitek juga ditantang dan berkesempatan untuk memanfaatkan masa tersebut dalam mengeksplorasi bentuk dengan menyesuaikan ilmu dan teknologi yang ada.

Sistem sun shading dengan pola komponen persegi terinspirasi dari salah satu karya arsitek terkenal pada era ini, Le Corbusier, bangunan unit perumahan yaitu Unité d’Habitation atau disebut juga Cité radieuse (Radiant City) di Mersailles dan Berlin. Gaya modernis pada bangunan Le Corbusier dibangun antara tahun 1947 dan 1952. Sistem ini juga merupakan salah satu prinsip yang sering digunakan oleh Le Corbusier.

118966

Salah satu tampak bangunan Unite de Habitation karya Le Corbusier

Pada era arsitektur modern, akibat pengaruh revolusi industri, karakter material yang kuat yang dapat dibuat secara massal yaitu beton, baja, dan kaca. Penggunaan material untuk bangunan yang dominan pada saat itu menggunakan beton. Material kaca juga dimanfaatkan untuk mengekspresikan ruang yang lebih terbuka. Kaca yang lebar diletakkan pada bidang-bidang sehingga bidang polos kaca itulah yang sangat dimunculkan dalam bangunan modern.

bersambung, lanjut ke Karya Arsitektur di Kampus ITB (2)

Liputan Talkshow: Arsitek Generasi Pertama Indonesia

Sebelumnya telah dijelaskan mengenai pameran arsitektur dalam profil dan karya yang bertempat di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung. Berikut ini akan dipaparkan lebih lanjut mengenai isi talkshow yang diselenggarakan pada tanggal 21 Februari 2015. Topik yang dibawa adalah ‘Objektivitas dalam Subjektivitas’. Meskipun talkshow tersebut tidak menghadirkan para arsitek yang telah disebutkan pada pengumuman, acara semakin menarik dengan hadirnya Ahmad Noe’man. Secara tidak langsung, acara ini telah menghadirkan arsitek Indonesia dari lima generasi. Arsitek tersebut antara lain Ahmad Noe’man, Fauzan Noe’man, Yuswadi Saliya, Sandi Siregar, dan Budi Sukada sebagai moderator.

20150221_172828

Pembicara Talkshow Arsitek Generasi Pertama Indonesia (dari kiri ke kanan: Budi Sukada, Sandi Siregar, Yuswadi Saliya, Ahmad Noe’man, Fauzan Noe’man)

Ahmad Noe’man

Awal bincang-bincang dimulai dari menceritakan perjalanan karir Ahmad Noe’man oleh anaknya Fauzan Noe’man. Ahmad Noe’man masuk kuliah di ITB pada tahun 1948. Saat itu, jurusan arsitektur belum ada. Kemudian, beliau masuk ke jurusan sipil karena mata kuliah arsitektur bagian dari pendidikan insinyur sipil. Barulah pada Oktober tahun 1950, ITB membuka jurusan arsitektur. Ahmad Noe’man pun langsung pindah karena beliau sangat minat dan menggemari ilmu membangun terutama arsitektur.

Saat kuliah di ITB, Ahmad Noe’man diajar oleh satu dosen utama bernama Van Romondt. Menurut beliau, dosen berkebangsaan Belanda tersebut berpikir lebih maju dan berbeda dari zamannya serta beliau merasa beruntung mempunyai dosen seperti Van Romondt. Dosen tersebut juga mengingatkan bahwa desain yang baik adalah desain yang melihat keterbatasan teknologi dan sesuai dengan lingkungan saat itu, serta mengingatkan akan kreativitas dalam berkarya.

Setelah lulus dari ITB, proyek pertama Ahmad Noe’man yaitu merenovasi masjid yang merupakan wakaf dari ayahnya di Garut. Saat beliau masih kecil, ayahnya membuat masjid di Riau dengan relung dari besi. Berbagai kesulitan pada saat pembangunan tersebut pun terjadi. Dengan melihat hal itu, beliau pun belajar dari pengalaman tersebut. Kemudian, dengan pemikiran beliau yang cukup berbeda, beliau sudah mulai membuat rancangan yang lebih modern dengan ide tanpa kolomnya.

Salah satu karya terbesar dan agung yang menjadi pelopor dari Ahmad Noe’man adalah Masjid Salman. Masjid yang berdiri sekitar tahun 1960 memiliki konsep yang berbeda dengan masjid lainnya. Salman telah membangun masjid kampus pertama di Indonesia pada saat itu. Bagi beliau proyek ini merupakan kemudahan karena beliau sendiri selain merancang juga merupakan pemilik proyek sehingga lebih mengetahui bentuk ideal yang ingin dimunculkan pada karyanya.

20150221_133436

Panel Pameran karya Ahmad Noe’man: Masjid Salman ITB

Konsep perancangan terinspirasi dari kitab suci yaitu Al-Quran surat Al-Baqarah ayat ke 170, yang intinya apabila Allah menurunkan sesuatu yang baru, manusia tidak langsung mengambilnya, tetapi manusia cenderung ikut ajaran nenek moyangnya. Kemudian, beliau juga menganut kepercayaan bahwa ketika beribadah shalat di masjid agar tidak terputus shaf atau barisannya. Acuan-acuan tersebut diinterpretasikan ke dalam desain yaitu konsep bangunan yang ekstrim tanpa kolom di tengah ruang. Selain itu, dengan desain yang modern tersebut muncul pula pemikiran untuk tidak membuat kubah pada masjid. Menurut beliau, tidak ada ketentuan yang disebutkan bahwa sebuah masjid harus mempunyai kubah.

Ahmad Noe’man ini adalah orang yang sangat unik. Meskipun tidak berkesempatan melanjutkan sekolah ke luar negeri, seperti para arsitek lainnya, pendidikan yang didapat oleh beliau lebih banyak dari pengalaman. Beliau termasuk salah satu dari 18 arsitek muda pendiri IAI dan punya visi yang sama yaitu ‘Menuju Dunia Arsitektur Indonesia yang Sehat’. Dengan begitu, beliau juga merupakan arsitek generasi pertama dengan pemikirannya yang merdeka dan memelopori sebuah mahakarya yang menjadi inspirasi bagi generasi penerus.

Fauzan Noe’man

Setelah lulus SMA, ayahnya memberi kesempatan pada Fauzan Noe’man untuk melanjutkan sekolah di Amerika dengan mengambil pendidikan arsitektur selama empat tahun dan satu tahun untuk keprofesian. Kemudian, lulus pendidikan arsitektur pada tahun 1987. Mengingat usia ayahnya sudah menginjak 61 tahun, beliau pulang ke Indonesia dan melanjutkan profesi di Indonesia. Beliau juga magang di biro arsitek ayahnya selama tiga tahun.

Proyek pertama yang dilibatkan pada saat magang di biro Ahmad Noe’man yaitu rumah. Dari proyek kecil ini saja, Fauzan merasa ilmu yang didapatnya dari belajar di negara empat musim berbeda dengan tempat tinggal aslinya di negara dua musim. Sangat banyak hal yang diajarkan oleh ayahnya dengan tegas mengenai detail seperti tritisan, talang, konsep ruang dan sebagainya yang tidak diajarkan sebelumnya di Amerika. Ayahnya juga mengajarkan bahwa setiap garis adalah biaya.

Sebagai anak dari seorang arsitek generasi pertama, Fauzan Noe’man sendiri merasa heran dengan karir ayahnya di awal berarsitektur. Sang ayah sudah menghasilkan sebuah mahakarya yang modern dan sesuai zaman serta melihat kondisi iklim. Beliau juga beranggapan bahwa biasanya arsitek-arsitek hebat lainnya membuat sebuah mahakarya saat di akhir atau di tengah perjalanan karirnya. Sedangkan Ahmad Noe’man sejak awal berkarir sudah memiliki pemikiran yang berbeda tersebut. Hal yang tidak diherankan adalah beliau pasti sangat bangga mempunyai ayah seorang Ahmad Noe’man, salah satu arsitek generasi pertama di Indonesia.

Yuswadi Saliya

Pada tahun 1958 atau akhir tahun 1960 merupakan puncaknya modernisme, revolusi industri, dan modularitas terutama di daerah Eropa. Pada zaman itu pula, di Indonesia, arsitek baru muncul seperti Soejoedi dan Han Awal membawa pemikiran yang sangat baru. Arsitek-arsitek tersebut dan arsitek lainnya yang berkesempatan belajar di luar negeri terutama di daerah Eropa membawa angin modernisme itu ke Indonesia.

Di belahan negara lainnya, pada era yang sama, Oscar Niemeyer, arsitek Brazil sedang naik daun dan menjadi idola. Van Romondt yang pada saat itu merupakan dosen arsitek di ITB merupakan orang yang sangat rasional. Menurut pengajar dari Belanda tersebut, karya-karya di Brazil yang tipe kondisi iklimnya sama dengan Indonesia, memang luar biasa, tetapi terkesan hanya main-main saja.

Ahmad Noe’man merupakan pelopor tahun 1960-an dengan membangun masjid tanpa kubah. Beliau merupakan orang yang pemikirannya sangat terbuka, merdeka, dan mengandalkan sensitivitas. Menurut beliau, sensitivitas itu terbentuknya lama. Beliau beranggapan bahwa arsitek zaman dulu pemikirannya bersumber dari perasaan yang terdalam. Inspirasi bukan hanya dari referensi atau bahkan internet, tetapi lebih mencari penggabungan dari banyak variabel yang dapat menciptakan sesuatu yang lebih baru.

Sandi Siregar

Sandi A. Siregar merupakan akademisi yang juga berpraktik dari Unpar angkatan 1964. Pengalaman yang menarik diceritakan oleh beliau yaitu pernah kerja praktik dalam proyek-proyek Soejoedi. Selain itu, sebagai penutup pembicaran, beliau juga mengambil beberapa kesimpulan yaitu adanya semangat out of the box yang positif yang dibawa oleh Ahmad Noe’man dan bagaimana landasan pemikiran yang rasional dibandingkan dengan perasaan intuitif dalam merancang sebuah proyek bangunan.

Demikian, isi perbincangan yang diliput langsung dari acara talkshow Arsitek Generasi Pertama Indonesia. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan informasi atau perbedaan persepsi dalam tulisan ini.

Ujian Komprehensif

Salah satu mata kuliah tingkat akhir pada judul ini merupakan tujuan awal adanya blog Ada Aja Anak Arsi. Ujian ini merupakan ujian akhir mahasiswa yang dihadapi saat tingkat akhir untuk menguji apakah sebagai mahasiswa tingkat akhir telah memahami mata kuliah yang telah diberikan selama kurang lebih tiga tahun sebelumnya. Karena saya merupakan mahasiswa Arsitektur, maka pemahaman yang perlu diketahui yaitu mengenai arsitektur.

Pustaka yang digunakan yaitu Architect Registration Examination (ARE). ARE adalah pemeriksaan lisensi profesional yang telah digunakan oleh semua 50 negara bagian Amerika Serikat, Kolombia, dan tiga wilayah AS (Guam, Puerto Rico, dan Kepulauan Virgin) untuk menilai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan serta memberikan berbagai layanan yang dibutuhkan dalam praktek arsitektur.

ARE dikembangkan dan dikelola oleh National Council of Architectural Registration Boards (NCARB) dengan input dari Canadian Architectural Licensing Authorities (CALA). Ujian ini berbasis komputer, terdiri dari tujuh materi, dengan pilihan ganda dan / atau pertanyaan sketsa grafis yang diberikan di pusat-pusat pengujian dan dioperasikan oleh pengujian konsultan Prometric.

Arsitektur ITB telah mengadakan ujian ini pertama kalinya mulai pada kurikulum 2013 tahun lalu. Seperti yang telah disebutkan diatas, pustaka yang digunakan dalam mengadakan ujian komprehensif ini yaitu ARE. Ujian terdiri dari lima materi utama, dengan pertanyaan dan jawaban pilihan ganda sebanyak 200 soal dan dilaksanakan dengan bantuan slide show di depan ruangan kelas.

Ujian akan diadakan dua kali, saat UTS dan saat UAS. Minimal nilai lulus yang didapat yaitu dapat menjawab 50% dari semua pertanyaan dengan benar dengan nilai C. Waktu yang disediakan untuk mengerjakan 200 soal pertanyaan ini yaitu 200 menit. Jika saat UTS telah lulus dan mendapatkan nilai yang baik, maka dapat tidak perlu mengikuti ujian kedua saat UAS. Tetapi, jika belum lulus atau ingin memperbaiki nilai agar lebih baik, maka berhak mengikuti ujian kedua saat UAS. Jika tidak lulus sama sekali, maka harus mengikuti lagi mata kuliah yang sama di semester berikutnya.

Luaran yang akan diuji yaitu mengenai pemahaman:

  1. Komunikasi arsitektur (konvensi, aturan umum, dan piranti lunak)
  2. Teori-teori dalam dan tentang desain yang berkaitan dengan sejarah, seni, budaya, dan perilaku
  3. Pengetahuan desain yang dibutuhkan dalam praktek perancangan
  4. Pengetahuan teknologi (struktur, konstruksi, dan prinsip)
  5. Pengetahuan keprofesian arsitek

Demikian informasi mengenai ujian komprehensif yang diadakan di Prodi Arsitektur ITB tahun 2014 dari pandangan seorang mahasiswa tingkat akhir ini. Informasi diatas mungkin sewaktu-waktu akan berubah setiap tahun seiring menuju yang lebih baik. Semoga bermanfaat dan semoga anda, kami (kita) semua yang akan melaksanakan Ujian Komprehensif ini diberi kelancaran dan kemudahan. Aamiin. 🙂

Sumber:

Pengenalan mata kuliah Ujian Komprehensif (14/10/10)

http://www.ncarb.org/are.aspx

http://en.wikipedia.org/wiki/Architect_Registration_Examination