Liputan Talkshow: Arsitek Generasi Pertama Indonesia

Sebelumnya telah dijelaskan mengenai pameran arsitektur dalam profil dan karya yang bertempat di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung. Berikut ini akan dipaparkan lebih lanjut mengenai isi talkshow yang diselenggarakan pada tanggal 21 Februari 2015. Topik yang dibawa adalah ‘Objektivitas dalam Subjektivitas’. Meskipun talkshow tersebut tidak menghadirkan para arsitek yang telah disebutkan pada pengumuman, acara semakin menarik dengan hadirnya Ahmad Noe’man. Secara tidak langsung, acara ini telah menghadirkan arsitek Indonesia dari lima generasi. Arsitek tersebut antara lain Ahmad Noe’man, Fauzan Noe’man, Yuswadi Saliya, Sandi Siregar, dan Budi Sukada sebagai moderator.

20150221_172828

Pembicara Talkshow Arsitek Generasi Pertama Indonesia (dari kiri ke kanan: Budi Sukada, Sandi Siregar, Yuswadi Saliya, Ahmad Noe’man, Fauzan Noe’man)

Ahmad Noe’man

Awal bincang-bincang dimulai dari menceritakan perjalanan karir Ahmad Noe’man oleh anaknya Fauzan Noe’man. Ahmad Noe’man masuk kuliah di ITB pada tahun 1948. Saat itu, jurusan arsitektur belum ada. Kemudian, beliau masuk ke jurusan sipil karena mata kuliah arsitektur bagian dari pendidikan insinyur sipil. Barulah pada Oktober tahun 1950, ITB membuka jurusan arsitektur. Ahmad Noe’man pun langsung pindah karena beliau sangat minat dan menggemari ilmu membangun terutama arsitektur.

Saat kuliah di ITB, Ahmad Noe’man diajar oleh satu dosen utama bernama Van Romondt. Menurut beliau, dosen berkebangsaan Belanda tersebut berpikir lebih maju dan berbeda dari zamannya serta beliau merasa beruntung mempunyai dosen seperti Van Romondt. Dosen tersebut juga mengingatkan bahwa desain yang baik adalah desain yang melihat keterbatasan teknologi dan sesuai dengan lingkungan saat itu, serta mengingatkan akan kreativitas dalam berkarya.

Setelah lulus dari ITB, proyek pertama Ahmad Noe’man yaitu merenovasi masjid yang merupakan wakaf dari ayahnya di Garut. Saat beliau masih kecil, ayahnya membuat masjid di Riau dengan relung dari besi. Berbagai kesulitan pada saat pembangunan tersebut pun terjadi. Dengan melihat hal itu, beliau pun belajar dari pengalaman tersebut. Kemudian, dengan pemikiran beliau yang cukup berbeda, beliau sudah mulai membuat rancangan yang lebih modern dengan ide tanpa kolomnya.

Salah satu karya terbesar dan agung yang menjadi pelopor dari Ahmad Noe’man adalah Masjid Salman. Masjid yang berdiri sekitar tahun 1960 memiliki konsep yang berbeda dengan masjid lainnya. Salman telah membangun masjid kampus pertama di Indonesia pada saat itu. Bagi beliau proyek ini merupakan kemudahan karena beliau sendiri selain merancang juga merupakan pemilik proyek sehingga lebih mengetahui bentuk ideal yang ingin dimunculkan pada karyanya.

20150221_133436

Panel Pameran karya Ahmad Noe’man: Masjid Salman ITB

Konsep perancangan terinspirasi dari kitab suci yaitu Al-Quran surat Al-Baqarah ayat ke 170, yang intinya apabila Allah menurunkan sesuatu yang baru, manusia tidak langsung mengambilnya, tetapi manusia cenderung ikut ajaran nenek moyangnya. Kemudian, beliau juga menganut kepercayaan bahwa ketika beribadah shalat di masjid agar tidak terputus shaf atau barisannya. Acuan-acuan tersebut diinterpretasikan ke dalam desain yaitu konsep bangunan yang ekstrim tanpa kolom di tengah ruang. Selain itu, dengan desain yang modern tersebut muncul pula pemikiran untuk tidak membuat kubah pada masjid. Menurut beliau, tidak ada ketentuan yang disebutkan bahwa sebuah masjid harus mempunyai kubah.

Ahmad Noe’man ini adalah orang yang sangat unik. Meskipun tidak berkesempatan melanjutkan sekolah ke luar negeri, seperti para arsitek lainnya, pendidikan yang didapat oleh beliau lebih banyak dari pengalaman. Beliau termasuk salah satu dari 18 arsitek muda pendiri IAI dan punya visi yang sama yaitu ‘Menuju Dunia Arsitektur Indonesia yang Sehat’. Dengan begitu, beliau juga merupakan arsitek generasi pertama dengan pemikirannya yang merdeka dan memelopori sebuah mahakarya yang menjadi inspirasi bagi generasi penerus.

Fauzan Noe’man

Setelah lulus SMA, ayahnya memberi kesempatan pada Fauzan Noe’man untuk melanjutkan sekolah di Amerika dengan mengambil pendidikan arsitektur selama empat tahun dan satu tahun untuk keprofesian. Kemudian, lulus pendidikan arsitektur pada tahun 1987. Mengingat usia ayahnya sudah menginjak 61 tahun, beliau pulang ke Indonesia dan melanjutkan profesi di Indonesia. Beliau juga magang di biro arsitek ayahnya selama tiga tahun.

Proyek pertama yang dilibatkan pada saat magang di biro Ahmad Noe’man yaitu rumah. Dari proyek kecil ini saja, Fauzan merasa ilmu yang didapatnya dari belajar di negara empat musim berbeda dengan tempat tinggal aslinya di negara dua musim. Sangat banyak hal yang diajarkan oleh ayahnya dengan tegas mengenai detail seperti tritisan, talang, konsep ruang dan sebagainya yang tidak diajarkan sebelumnya di Amerika. Ayahnya juga mengajarkan bahwa setiap garis adalah biaya.

Sebagai anak dari seorang arsitek generasi pertama, Fauzan Noe’man sendiri merasa heran dengan karir ayahnya di awal berarsitektur. Sang ayah sudah menghasilkan sebuah mahakarya yang modern dan sesuai zaman serta melihat kondisi iklim. Beliau juga beranggapan bahwa biasanya arsitek-arsitek hebat lainnya membuat sebuah mahakarya saat di akhir atau di tengah perjalanan karirnya. Sedangkan Ahmad Noe’man sejak awal berkarir sudah memiliki pemikiran yang berbeda tersebut. Hal yang tidak diherankan adalah beliau pasti sangat bangga mempunyai ayah seorang Ahmad Noe’man, salah satu arsitek generasi pertama di Indonesia.

Yuswadi Saliya

Pada tahun 1958 atau akhir tahun 1960 merupakan puncaknya modernisme, revolusi industri, dan modularitas terutama di daerah Eropa. Pada zaman itu pula, di Indonesia, arsitek baru muncul seperti Soejoedi dan Han Awal membawa pemikiran yang sangat baru. Arsitek-arsitek tersebut dan arsitek lainnya yang berkesempatan belajar di luar negeri terutama di daerah Eropa membawa angin modernisme itu ke Indonesia.

Di belahan negara lainnya, pada era yang sama, Oscar Niemeyer, arsitek Brazil sedang naik daun dan menjadi idola. Van Romondt yang pada saat itu merupakan dosen arsitek di ITB merupakan orang yang sangat rasional. Menurut pengajar dari Belanda tersebut, karya-karya di Brazil yang tipe kondisi iklimnya sama dengan Indonesia, memang luar biasa, tetapi terkesan hanya main-main saja.

Ahmad Noe’man merupakan pelopor tahun 1960-an dengan membangun masjid tanpa kubah. Beliau merupakan orang yang pemikirannya sangat terbuka, merdeka, dan mengandalkan sensitivitas. Menurut beliau, sensitivitas itu terbentuknya lama. Beliau beranggapan bahwa arsitek zaman dulu pemikirannya bersumber dari perasaan yang terdalam. Inspirasi bukan hanya dari referensi atau bahkan internet, tetapi lebih mencari penggabungan dari banyak variabel yang dapat menciptakan sesuatu yang lebih baru.

Sandi Siregar

Sandi A. Siregar merupakan akademisi yang juga berpraktik dari Unpar angkatan 1964. Pengalaman yang menarik diceritakan oleh beliau yaitu pernah kerja praktik dalam proyek-proyek Soejoedi. Selain itu, sebagai penutup pembicaran, beliau juga mengambil beberapa kesimpulan yaitu adanya semangat out of the box yang positif yang dibawa oleh Ahmad Noe’man dan bagaimana landasan pemikiran yang rasional dibandingkan dengan perasaan intuitif dalam merancang sebuah proyek bangunan.

Demikian, isi perbincangan yang diliput langsung dari acara talkshow Arsitek Generasi Pertama Indonesia. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan informasi atau perbedaan persepsi dalam tulisan ini.

Liputan: Pameran Arsitektur “Generasi Pertama Arsitek dalam Profil dan Karya”

10426275_854905254571630_5938344879509103225_n

Poster Pameran Arsitektur (sumber: facebook.com)

Pada tanggal 19 Februari hingga 22 Februari 2015, telah berlangsung pameran arsitektur yang berlokasi di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan No. 5, Bandung. Pameran arsitektur ini mengambil tema “Generasi Pertama Arsitektur Dalam Profil dan Karya”. Pameran tersebut merupakan rangkaian acara roadshow yang diselenggarakan oleh IAI Nasional bekerja sama dengan IAI Jawa Barat, FIMA Jawa Barat, dan Dinas Budaya dan Pariwisata Bandung. Pameran ini terdiri dari tiga rangkaian acara yaitu pameran karya arsitek era 50-60an, talkshow pada tanggal 21 Februari, dan pemutaran film mengenai arsitektur pada tanggal 21 Februari malam.

Sekilas mengenai Gedung Indonesia Menggugat merupakan gedung bersejarah yang dibangun tahun 1906. Fungsi awal bangunan ini dulu merupakan rumah tinggal. Sejak 1917, kemudian menjadi Gedung Pengadilan Belanda (Landraad). Peristiwa sejarah juga terjadi disini. Ir. Soekarno bersama rekan-rekan PNI diadili oleh pemerintah Belanda pada tanggal 18 Agustus hingga 22 Desember 1930. Beliau membacakan ‘pledoi’ atau pidato pembelaan yang termashur dengan judul ‘Indonesia Menggugat’, yang disusunnya di penjara Banceuy. Kini Gedung Indonesia Menggugat merupakan tempat yang dilestarikan sebagai museum sejarah dan terbuka untuk publik serta merupakan tempat yang tepat dipilih untuk pameran arsitektur yang bersejarah ini.

20150221_125557

Gedung Indonesia Menggugat saat acara Pameran Arsitektur, 21 Feb 2015

Rekam Jejak Arsitek Generasi Pertama dalam Pameran

Selama berada di pameran, kita akan menemukan dan melihat rekam profil dan karya dari para arsitek generasi pertama Indonesia. Arsitek-arsitek tersebut antara lain Soejoedi, F. Silaban, Ahmad Noe’man, Han Awal, Hoemar Tjokrodiatmo, Moerdjoko, Bianpoen, Mustafa Pamuntjak, Liem Bwan Tjie, dan Zaenudin Kartadiwiria. Sketsa-sketsa yang ditampilkan memiliki kesan yang berbeda dari pameran arsitektur lainnya dengan tanpa maket atau model. Informasi gambar memuat tanggal pembuatan, keterangan bangunan, dan memperlihatkan sketsa ciri khas arsitek tersebut. Dengan penampilan gambar-gambar yang hitam putih, kesan perjuangan dari tarikan garis-garis sketsa itulah yang terlihat dan menjadi daya tarik utama dari pameran ini.

20150221_134719

Salah satu panel pameran arsitektur generasi pertama, Hoemar

20150221_134745(0)

Suasana Pameran Arsitektur

20150221_130420

Suasana Pameran Arsitektur

Talkshow Arsitek Generasi Pertama Indonesia

Selain pameran profil dan karya yang terpampang di seluruh bagian gedung, terdapat pula acara bincang-bincang atau talkshow. Acara bincang-bincang tersebut diselenggarakan pada tanggal 21 Februari 2015. Topik yang dibawa adalah ‘Objektivitas dalam Subjektivitas’. Meskipun talkshow tersebut tidak menghadirkan para arsitek yang telah disebutkan pada pengumuman, acara tersebut semakin menarik dengan hadirnya Ahmad Noe’man. Acara bincang-bincang tersebut secara tidak langsung telah menghadirkan arsitek Indonesia dari lima generasi. Arsitek tersebut antara lain Ahmad Noe’man, Fauzan Noe’man, Yuswadi Saliya, Sandi Siregar, dan Budi Sukada sebagai moderator. Untuk isi pembicaraan talkshow lebih lanjut klik Talkshow.

20150221_140944

Suasana Talkshow Arsitek Generasi Pertama

20150221_172828

Pembicara Talkshow Arsitek Generasi Pertama

Setelah acara bincang-bincang dan tanya jawab yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut, acara di Gedung Indonesia Menggugat pada hari tersebut pun telah selesai. Sesi tanya jawab pun berlangsung cukup menarik dan didukung juga tanggapan-tanggapan dari arsitek dan akademisi kalangan arsitektur lainnya yang hadir dalam talkshow tersebut.

Selain itu, terdapat juga acara pemutaran film pada pukul 19.30 di hari yang sama dengan acara talkshow. Film yang diputar yaitu mengenai arsitektur Indonesia dalam kacamata para arsitek dari generasi pertama hingga generasi arsitek muda sebagai penerus saat ini. Salah satu arsitek generasi pertama yang bercerita pada film tersebut yaitu Han Awal. Selain menampilkan cerita dan pendapat dari para arsitek tersebut, karya-karya arsitektur yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan arsitektur di Indonesia turut ditampilkan misalnya ulasan mengenai Rumah Angin.

Kesimpulan yang dapat diambil dari serangkaian acara pameran arsitektur ‘Generasi Pertama Arsitek dalam Profil dan Karya’ ini diantaranya yaitu kita dapat melihat betapa sangat berpengaruhnya para arsitek generasi pertama ini dalam memajukan dan mengembangkan arsitektur di Indonesia. Selain itu, melihat juga bagaimana para arsitek tersebut menyikapi perkembangan zaman terhadap kondisi Indonesia saat itu. Berbagai karya yang kita lihat dan pelajari dari pameran tersebut tidak membuat kita turut melupakan bagaimana karya arsitektur secara filosofis menyiratkan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Catatan:

Liputan dan gambar didapat dari dokumentasi pribadi pada tanggal 21 Februari 2015.

Slamet Wirasonjaya dan PUSDAI

Every great architect is – necessarily – a great poet. He must be a great original interpreter of his time, his day, his age. (Frank Lloyd Wright)

Pada masa modernisme pasca kemerdekaan di Indonesia, Slamet Wirasonjaya merupakan arsitek dan dosen di ITB. Selain terlibat di ITB, beliau juga terlibat dalam perencanaan Monumen Nasional di Jakarta. Karya-karyanya cenderung berbentuk dinamis, ekspresionis, dan sebagian besar merupakan bangunan publik seperti Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Pusat Da’wah Islam (PUSDAI), Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Monumen Yogya Kembali, dan lain-lain. Beliau juga pernah menerbitkan sebuah buku yang berjudul “SLW”.

Selain terkenal menjadi arsitek, beliau juga menggeluti arsitektur lansekap. Setelah kuliah di ITB mengambil jurusan Arsitektur, beliau melanjutkan kuliah Arsitektur Lansekap di Harvard. Beliau merupakan orang Indonesia pertama yang mendapat gelar Magister Arsitektur Lansekap. Beberapa bulan setelah lulus, beliau membuat karya pertamanya sebagai arsitek lansekap di Indonesia yaitu proyek Gedung Conefo atau Gedung MPR/DPR. Namanya cukup terkenal di kalangan arsitektur lansekap di Indonesia.

Arsitektur ruang publik menjadi fokus utama yang ingin diwujudkan oleh Slamet. Menurut beliau, ruang publik adalah sebuah tempat untuk orang berkumpul dan bersosialisasi. Prinsip kebersamaan menjadi salah satu penyebab suksesnya bangunan-bangunan rancangan seorang Slamet Wirasonjaya. Oleh karena itu, dalam merancang bangunan atau ruang publik, beliau pasti melibatkan orang-orang sekitar karena rancangan tersebut juga akan digunakan oleh orang-orang tersebut.

Sejarah PUSDAI

20150401_155856

Ide awal PUSDAI dibangun yaitu dalam rangka menyambut abad ke 15 tahun Hijriah, yaitu tahun 1400 Hijriah pada tahun 1977. Pada masa tersebut, kebangkitan islam cukup terasa sehingga perayaan menuju abad ke 15 ini cukup meriah dengan merayakan kegiatan-kegiatan yang islami dan seperti halnya merayakan pesta menuju abad milenium. Kalangan ulama sendiri melakukan diskusi untuk membuat sesuatu yang berkaitan dengan Islamic Center. Usulan ide ini disampaikan kepada gubernur pada saat itu. Kemudian, gubernur pun menyutujuinya. Hal ini juga bernilai nasionalisme karena sebagai simbolisasi dalam mengingat para pejuang kemerdekaan tahun 1945.

Pada tahun 1982, Surat Keputusan mengenai pembebasan Islamic Center ini baru disetujui dan ditetapkan bersamaan dengan Surat Keputusan untuk Monumen Perjuangan Rakyat yang sesuai dengan keinginan pemerintah. Setelah 10 tahun kemudian, dan telah melalui tiga masa gubernur, pada tahun 1992 perencanaan PUSDAI ini mulai dibangun. Perancang dari PUSDAI ini yaitu Slamet Wirasonjaya, yang saat itu merupakan dosen Arsitektur ITB. Pembangunan berlangsung selama 5 tahun. Peresmian selesainya pembangunan yaitu tanggal 2 Desember 1997.

Konsep awal rencana bangunan PUSDAI yaitu mengambil dari pemukiman Sunda. Area yang terbuka yang terletak di tengah tapak dianalogikan sebagai kolam. Selain itu, bangunan ditinggikan seperti konsep rumah panggung. Bentuk atap yaitu tropis khas Sunda sesuai dengan keadaan lokasi. Interiornya pun menggunakan ukiran dan hiasan khas alam Sunda pada bagian dinding dan beberapa furnitur seperti hanjuang, patra komala, dan lain-lain. Ciri khas komponen lain yang diterapkan yaitu banyaknya unsur lengkung seperti konsep Islam Timur Tengah yang sekaligus diperkirakan sebagai bagian dari struktur bangunan berupa balok. Struktur utama bangunan menggunakan material beton, sedangkan struktur untuk rangka atap menggunakan baja.

Catatan Referensi:

Tulisan ini dibuat dalam rangka melengkapi makalah mata kuliah Seminar Arsitektur. Selain itu, masih banyak kekurangan dan masih dalam tahap perbaikan. Sumber tulisan diambil dari berbagai macam tulisan lain mengenai Slamet Wirasonjaya, buku mengenai Arsitektur di Indonesia. Selain itu, sejarah PUSDAI didapat dari hasil wawancara dengan Pak Taufiq Rahman yang saat ini menjadi Kepala IT di PUSDAI.